Koalisi Maju Mundur PDF Print E-mail
Written by Administrator   
Wednesday, 13 May 2009 23:25
Editorial Media Indonesia: Kamis, 14 Mei 2009 00:00 WIB    
PARTAI politik di negeri ini belum juga beranjak dewasa dan matang. Perangai kekanak-kanakan masih saja melekat. Main ancam dan suka mutung. Tapi, ketika dibelai dan diberi permen, segera balik dan memeluk erat.
Watak seperti itu kentara benar ketika calon presiden dari Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono memastikan menggandeng Boediono sebagai calon wakil presiden pada pemilihan presiden 8 Juli nanti. Partai-partai politik yang sebelumnya ikut dalam koalisi dengan Demokrat tiba-tiba berang. Mereka pun mengancam menarik dukungan dan membentuk koalisi alternatif. Ada juga yang ingin hijrah ke pasangan Jusuf Kalla-Wiranto, sedangkan yang lainnya mau maju bersama Megawati Soekarnoputri atau Prabowo Subianto.

Sebelum SBY memutuskan cawapresnya, partai-partai itu pun mengajukan nama cawapres kepada SBY disertai permintaan agar SBY memilih cawapres dari kalangan parpol. Bukan nonparpol atau profesional. Tapi ada embel-embel, "Semuanya bergantung kepada capres SBY."
Ketika SBY memutuskan Boediono, serangan dan ancaman pun bertubi-tubi datang dari partai koalisi. SBY dinilai tidak menjunjung tinggi etika komunikasi. SBY dinilai melakukan blunder politik karena mengabaikan unsur Jawa dan luar Jawa. SBY dinilai mengabaikan tingkat elektabilitas dari calon pendamping dan seribu satu alasan lain. Seharusnya sebelum menetapkan Boediono, Partai Demokrat dan SBY membicarakan keputusan itu dengan parpol pendukung.

Kita heran karena tiba-tiba makna koalisi menjadi jungkir balik. Koalisi yang seharusnya menyatukan platform partai, melaksanakan visi dan misi bersama, kemudian dikerdilkan menjadi dagang sapi hanya untuk bagi-bagi kursi. Partai politik dan politisi kita ternyata hanya disesaki nafsu berkuasa, kalkulasi untung rugi, dan bukan idealisme mengabdi masyarakat. Partai politik dan politisi hanya ingin menuai tanpa menanam, hanya ingin memungut tanpa menabur.

Seorang pemimpin harus menjadi contoh memegang teguh kata-katanya dan melakukan sesuatu atas dasar apa yang sudah diucapkannya. Jika menyatakan menyerahkan penentuan cawapres kepada SBY, kata-kata itu harus dipegang. Masyarakat masih cukup cerdas dan waras mengingat kata-kata para pemimpin. Publik muak melihat perilaku politisi yang mudah berubah.

Partai politik yang perolehan suaranya jauh di bawah Partai Demokrat merasa sederajat dan berhak mendikte SBY. Padahal, partai-partai itu yang merasa perlu merapat ke Demokrat dan SBY meski Demokrat dan SBY juga memerlukan partai-partai itu. Memang partai politik dan politisi sering tidak tahu diri.
Kita juga prihatin melihat perilaku elite politik yang senang main gertak dan mudah bersalin mitra koalisi. Seolah tidak ada ikatan apa-apa sehingga partai-partai seperti angin yang mudah beralih tanpa meninggalkan jejak dan tanpa malu.

Pelajaran berharga dari koalisi campur sari sekarang ini adalah perlunya membangun koalisi permanen. Dengan demikian, partai-partai tidak mudah lompat pagar atau menyeberang sesuka hati karena tidak ada ikatan platform partai.

Masalah utama yang dihadapi elite parpol yang selalu berulang adalah buruknya komunikasi. Komitmen-komitmen yang sudah tercapai tidak dapat terawat karena buruknya komunikasi. Bahkan sesama partai koalisi bisa saling menyerang termasuk mengenai kebijakan pemerintah karena tidak ada komunikasi untuk menjaga komitmen-komitmen tersebut.

Hiruk pikuk berburu kekuasaan telah membuat parpol dan elite politik melupakan rakyat, padahal rakyat adalah tempat kebenaran berdomisili.
Last Updated on Wednesday, 13 May 2009 23:31