Tokoh NU dan Muhammadiyah Kritik SBY PDF Print E-mail
Wednesday, 27 May 2009 04:47

PAN Bebaskan Kadernya
Tokoh NU dan Muhammadiyah Kritik SBY

Jakarta, Pelita
Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Hasyim Muzadi melontarkan kritik terhadap SBY yang dinilainya gagal melaksanakan sistem pemerintahan yang baik. Kritik yang sama juga muncul dari mantan Ketua PP Muhammadiyah Syafii Maarif.
Kepada wartawan di Jakarta, Hasyim Muzadi mengatakan SBY sebagai tidak ada keberanian untuk mengambil risiko, dan keteladanan pemimpin.
Menurut Hasyim, pemimpin yang sedang berjalan tidak mengutamakan kepentingan rakyat dan hanya mengejar nama baik dan popularitas. Hasyim berharap pemerintah ke depan lebih memerhatikan kepercayaan rakyat.
Hari ini orang hanya mengejar imej, bukan kepercayaan masyarakat. Orang hanya ingin tampil imej tanpa ingin tampil benar, tutur Hasyim.
Hasyim merasa prihatin dengan sistem pemerintahan sekarang. Dia berharap pemerintah dapat lebih tegas dan berani menentukan kebijakan yang mensejahterakan rakyat Indonesia.
Hayim bahkan mengomentari pelaksanaan Pileg yang menuai banyak permasalahan. Hasyim berharap pemerintah dapat bersikap netral dalam Pilpres Juli nanti. Kita hanya ingin proses pemilihan itu fair pada seluruh proses pemilihan, jangan menggunakan kekuasan negara untuk memenangkan, katanya.
Hasyim juga menyentil persoalan yang sedang hangat, yakni isu neoliberalisme yang disematkan kepada Cawapres SBY, Boediono. Menurutnya neoliberalisme tidak sesuai diterapkan di Indonesia.
Ekonomi neoliberal sulit mengakomodasi. Sentralnya pada capital (modal), bukan proyeksi pada rakyat kecil. Itulah mengapa kita kalah dari Vietnam dan Malaysia karena ketergantungan ini, jelasnya.
Sementara itu, saat dikunjungi Jusuf Kalla di rumahnya, Komplek Nogotirto, Jalan Halmahera J 76, Sleman, Yogyakarta, kemarin, Syafii Maarif merasa yakin bahwa JK sebentar lagi akan menjadi Presiden sesungguhnya (The Real President).
Itu belum menjadi kenyataan, tapi tidak lama lagi, kata Syafii Maarif seperti dilansir Antara.
Mendengar pernyataan Syafii, JK pun tersenyum senang. Menurut Syafii, JK sebenarnya telah sejak lama menjadi Presiden. Kenyataannya memang seperti itu. Saya tidak berkampanye, kenyataan memang seperti itu, ujarnya lagi.
JK bersama istrinya Mufidah Jusuf Kalla dan rombongan singgah ke rumah Syafii selama kurang lebih 20 menit. Setelah mengunjungi Syafii, JK akan meneruskan kunjungannya ke Universitas Islam Indonesia di Jalan Kaliurang, Sleman, Yogyakarta.
PAN bebas
Sementara mengomentari sikap sejumlah kader PAN yang justru mendukung pasangan JK-Wiranto, Ketua DPP PAN Sayuti Asyathri mengatakan, PAN sudah mempersilakan kepada para kadernya untuk mendukung JK-Wiranto. Alasannya visi dan platform JK-Wiranto sama dengan PAN.
Sayuti menganggap wajar jika Ketua MPP PAN Amien Rais jatuh hati dan mendukung JK-Wiranto. PAN memang membebaskan kadernya berkomunikasi dengan pasangan manapun sepanjang sesuai dengan visi PAN.
Mungkin Pak Amien melihat aspek baik dari agenda JK-Wiranto. Ini kan soal aspirasi, boleh-boleh saja, tutur Sayuti.
Dia juga memaparkan beberapa keunggulan JK-Wiranto. Menurutnya, karena alasan inilah Amien berpaling ke JK-Wiranto. Komitmen kerakyatan, bebas dari campur tangan asing. Kalau SBY-Boediono tidak memberikan, ya wajar saja kesitu (JK-Wiranto), ungkap Sayuti.
Sayuti kembali menegaskan bahwa PAN sudah resmi berkoalisi dengan PD. Meski demikian bukan tidak mungkin dukungan bisa beralih ke pasangan lainnya. Surat sudah ditandatangani, dukungan formal kita kepada SBY-Boediono, kecuali ada satu calon yang kita yakin menyerap aspirasi kita, ucapnya sambil tertawa. (jon)