MEMBANGUN OPTIMISME PDF Print E-mail
Written by Administrator   
Saturday, 27 June 2009 06:23

Merebut Matahari

Sabtu, 27 Juni 2009 | 03:13 WIB

Agung Adiprasetyo

Fitri, Dunia Gelap yang Memberi Terang”. Dia merasa kerasan sebagai tunanetra karena dia bisa menemukan keberartian hidup di tengah gelapnya dunia. Meski ia hanya bisa melihat sosok hitam orang di hadapannya, aktivitas Fitri Nugrahaningrum tak kalah dibandingkan orang lain. Tunanetra yang disandangnya tak menghalangi Fitri mewujudkan mimpinya. Kalau saya tidak buta, barangkali tak merasakan indahnya dunia, bisa dekat dengan anak-anak.

Demikian ditulis Sri Rejeki di rubrik Sosok, Kompas, 11 Juni 2009. Fitri, lulusan S-2 Program Pengembangan Masyarakat Universitas Sebelas Maret Solo, Jawa Tengah, itu, mengajar 100-an anak usia 2-12 tahun dalam kelompok belajar Sahabat Anak Raih Asa (Sahara).

 

Cerita ini hanya menjadi pengantar dari sekian ribu cerita sukses lain dari orang yang lebih melihat kemungkinan dibandingkan masalah. Cerita yang menimbulkan rasa kagum dan bangga, bukan kasihan atau sekadar iba. Cerita itu juga menjadi cermin bagaimana orang bebas dihadapkan pada cara melihat fenomena sebagai harapan melakukan segala hal yang mungkin bisa dilakukan lebih baik dibandingkan dengan ancaman yang akan merenggut segala sesuatu dari dirinya. Cerita itu juga merupakan pilihan bagi manusia dari dua sisi cara melihat sebuah ihwal. Selalu ada sisi siang, ada sisi malam. Ada sisi baik, ada sisi buruk. Ada keagungan, ada pula kehinaan.

Ada seniman, ada politisi. Tidak ada yang boleh merasa lebih penting karena semua keragaman ini membuat dunia menjadi indah. Tanpa orang jahat, tak ada orang disebut baik. Tak ada orang dikatakan cantik tanpa orang jelek. Daripada menghukum ketika orang melakukan kesalahan, mungkin lebih baik memberikan insentif kepada orang yang bekerja dengan benar.

Bayangkan kita berada dalam kamar gelap dengan hanya secercah cahaya lilin kecil di tengah ruangan. Cahaya lilin itu barangkali tak sampai menyinari sepertiga ruangan, tetapi orang tak akan mencari sesuatu di tempat gelap. Orang akan melihat lewat sedikit sinar yang masuk ke mata. Inilah hukum 80 persen melihat persoalan dan 20 persen melihat kemungkinan jalan keluar. Melihat 80 persen persoalan artinya kita langsung menempatkan diri di bawah langit mendung berawan tebal, lalu menempatkan seluruh metabolisme tubuh, pikiran, dan perasaan ke tempat gelap. Sementara walaupun hanya dengan berkonsentrasi pada 20 persen jalan keluar, membawa kita menatap matahari, merasakan embusan udara, dan memberi harapan. Ada sinar juga di sela-sela persoalan dan keputusasaan.

Inilah Indonesia

Di Bangalore, India, gajah besar hanya diikat di tiang pancang kecil yang sebenarnya dengan mudah dicabutnya. Aneh, mengapa gajah besar itu tak berupaya berontak. Jawabannya karena ketika masih kecil gajah itu berulang kali mencoba, tetapi gagal mematahkan tiang kecil itu. Kegagalan itu mewarnai pikirannya, bahkan sampai besar gajah itu tak pernah berusaha lagi untuk melepaskan diri.

Sama seperti gajah kecil itu, acap kali perasaan ketertinggalan dan keterbelakangan memberi kesimpulan dalam otak kita. Sering kita mendengar ucapan Indonesia terpuruk, Indonesia yang tidak seperti keadaan di luar negeri. Padahal, jangan-jangan hari ini Indonesia sudah menjadi gajah besar yang dapat mematahkan semua pandangan kultur bangsa terjajah.

Singkatnya, melihat sukses pasti lebih baik daripada melihat gagal. Berpikir benar pasti akan menghasilkan sesuatu yang benar. Benar masih ada 2,7 juta orang berusia lanjut yang telantar. Benar masih ada 17,8 persen masyarakat hidup di bawah garis kemiskinan. Benar juga masih 49 persen penduduk berpenghasilan di bawah 2 dollar AS per hari, benar ada 9,75 persen penganggur, benar Indonesia masih di peringkat ke-145 dari 180 negara yang dipersepsi korup. Namun, ketika kekuatan lama di dunia ini runtuh karena krisis, justru celah dan kesempatan terkuak. Negara dengan 10 persen spesies tumbuhan, 12 persen mamalia, 16 persen reptil, 17 persen burung, 25 persen ikan, yang hidup di seluruh dunia, yang tumbuh berkembang di bumi Indonesia, dengan luas hanya 1,3 persen dari luas bumi.

Beberapa orang yang sudah sempat melanglang buana pasti akan mengatakan, tidak ada tempat seindah Indonesia. Anugerah nyata terhampar di pantai, gunung, tanah, ngarai, dan hutan di 17.504 pulau dan laut seluas 3,26 juta km. Memiliki sumber alam yang menjadi cerita dari dunia Paman Gober hingga hari ini sebagai komoditas paling berharga: minyak dan emas! Cuaca dua musim yang memungkinkan orang Indonesia hidup tenang dan makmur selama 365 hari. Sebut semua hasil alam yang menjadi bahan pokok dan bahan baku produk terkemuka di seluruh dunia yang tidak dipasok dari Tanah Air. Cokelat, kelapa sawit, kopi. Belum lagi 240 juta penduduk, berbagai suku bangsa dan bahasa merupakan pasar besar luar biasa yang diincar banyak negara. Kehebatan dan kecantikan negeri yang menjadi inspirasi banyak pencipta lagu, penyair, dan pelukis.

Mencela? Mudah! Penonton sepak bola pasti lebih canggih daripada pemain. Sebaliknya tanpa banyak menangis, tanpa banyak mengeluh, tanpa banyak menuntut, ada saja orang yang menjadi mulia dengan melakukan sesuatu, yang untuk orang lain barangkali tidak besar artinya. Di harian Kompas saja hingga hari ini terkumpul lebih dari 3.000 cerita sukses, penemuan ilmiah, kehebatan ide, dan bahkan, menurut pakar pendidikan, Indonesia memiliki lebih dari 10.000 anak berotak sekualitas Einstein.

Jadi, yang dibutuhkan Indonesia barangkali hanya kembali menyambung urat malu. Pelajaran malu ketika mencuri, malu ketika berdusta, malu ketika kerja serampangan, malu melecehkan hukum, malu berbisnis tidak etis, malu berpolitik tidak bersih, dan malu tak mampu merebut matahari karena segala nikmat dan anugerah Yang Kuasa, semuanya ada di sini!

Agung Adiprasetyo CEO Kompas Gramedia

Last Updated on Saturday, 27 June 2009 06:27