KATA SAMBUTAN SEKJEN PADA ULANG TAHUN FOKO KE-10 PDF Print E-mail
Thursday, 27 August 2009 07:26

Peringatan 10 Tahun Forum Komunikasi Purnawirawan TNI – POLRI
Cawang Kencana 18 Agustus 2009


 Suasana gembira bahagia amat terasa saat ini. Pertama, kemarin 17 Agustus 2009 kita merayakan hari ulangtahun NKRI ke 64. Dirgahayu NKRI semoga Tuhan YME memberi kekuatan dan bimbingan agar bangsa Indonesia dapat mengatasi segala kesulitan yang dihadapi dan semoga bangsa Indonesia maju, sejahtera, mandiri, berdaulat, dan bermartabat. Kedua, kita baru saja melaksanakan pemilu 2009. Alhamdulillah pemilu 2009 berlangsung tenang, aman, dan damai, walau terdapat kelemahan dan kekurangan. Lebih melegakan kita, semua keputusan Mahkamah Konstitusi tentang klaim yang diajukan pasangan MEGA-PRO dan JK-WIN dapat diterima oleh kedua pasangan tersebut. Luar biasa, suatu keikhlasan demi bangsa dan Negara. Salut dan hormat untuk ibu Mega dan bapak Prabowo, bapak Jusuf Kalla dan bapak Wiranto. Ketiga, keberhasilan POLRI menumpas dan membongkar jaringan teroris yang mencekam dan mencemarkan nama baik Indonesia walau gembong utamanya Nurdiin Malaysia Top belum tertangkap. Insya Allah aksi teroris di Indonesia akan dapat ditumpas oleh POLRI dimana jaringan mereka semakin terbuka dan dikuasai POLRI. Untuk itu kita ucapkan selamat kepada POLRI khususnya Dentasemen 88 atas prestasi yang dicapai. Keempat ; Tak terasa – FOKO telah berusia 10 tahun; semoga Foko tetap mampu membawa aspirasi para Purn, dan semoga selalu dalam lindungan Tuhan Yang Maha Esa.
 Dalam memperingati hari jadi selalu kita melihat atau introspeksi apa yang sudah / belum kita kerjakan. 
Sebelumnya izinkan saya sedikit menjelaskan apa – siapa forum komunikasi purnawirawan itu, karena masih banyak orang yang bertanya-tanya.
Forum ini bermula dari pertemuan akbar pada 15 Mei 1999 di Balai Soedirman dihadiri lebih kurang 1300 Purn. TNI – POLRI dalam rangka menanggapi situasi nasional yang amat merisaukan waktu itu, akibat euforia reformasi yang penuh emosional. Seruan purnawirawan yang ditujukan kepada masyarakat luas sebagai hasil pertemuan tersebut mendapat tanggapan positif dari masyarakat luas. 
Sebagai lanjutan dari pertemuan tersebut diatas, pada tanggal 14 Agustus 1999 juga di Balai Sudirman lebih kurang 200 Purn. TNI – POLRI senior berkumpul dan bersepakat membentuk forum perjuangan bersama dengan nama Forum Komunikasi Purnawirawan TNI-POLRI disingkat FOKO. 
Oleh karena itu FOKO bukanlah organisasi baru bagi purnawirawan. FOKO adalah wadah perjuangan para purnawirawan melengkapi peran organisasi-organisasi pejuang yang sudah ada. 
Dalam memperingati 10 tahun FOKO kita sengaja memilih tanggal 18 Agustus 2009 karena tanggal 18 Agustus 1945 termasuk hari bersejarah yaitu hari lahirnya UUD 1945.
 FOKO lahir ditengah-tengah euforia reformasi dimana kepedulian terhadap bangsa, negara, dan almamater (TNI- POLRI) menjadi komitmennya. Keinginan untuk mewujudkan keadaan yang lebih baik (tujuan reformasi); berupa upaya amandemen UUD 1945 menarik perhatian para purn. Logikanya untuk mengamandemen suatu UUD (hukum dasar) diperlukan waktu cukup dan suasana tenang. Padahal waktu itu kita sedang dilanda krisis luar biasa berat. 
Apa yang dikhawatirkan para purnawirawan, ternyata benar dimana UUD 1945 (hasil perubahan) telah diwarnai oleh paham individualisme-liberalisme sehingga UUD 1945 (hasil perubahan) tidak lagi sesuai dengan jiwa dan semangat “Pembukaan”. Oleh karena itu UUD 1945 (hasil perubahan) adalah UUD baru (pengganti UUD 1945) dan sebenarnya tidak dapat disebut UUD 1945.
 Orang mulai sadar bahwa UUD 1945 (hasil perubahan) banyak kelemahan, kacau, dan sebagainya. Dan mulai ramai terdengar desakan agar UUD 1945 (hasil perubahan) dikaji ulang kembali.
 Beberapa contoh : demokrasi Indonesia, adalah demokrasi perwakilan, kini dirubah menjadi demokrasi langsung. MPR wujud rakyat berdaulat, suatu bentuk demokrasi khas Indonesia dihapus. Sekarang tidak ada lagi lembaga tertinggi negara yang dapat mengatasi keadaan bila terdapat perbedaan pandang antara lembaga-lembaga tinggi negara. GBHN dihapus. Sekarang tidak ada lagi jaminan pembangunan yang terarah dan berlanjut. Banyak contoh kacau lain, barangkali nanti akan terungkap pada acara diskusi 

64 tahun NKRI
 Sejak lahirnya; Republik ini tidak pernah sepi dari pertentangan ideologi. Sebagian besar usianya (lebih 50 tahun) habis terbuang untuk mengatasi berbagai pergolakan bersenjata sebagai kelanjutan dari pertentangan ideologi. ORBA berhasil meredam pertentangan ideologi dengan diterimanya Pancasila sebagai satu-satunya azas bagi ORMAS-PARPOL. Namun dengan diterapkannya sistem yang sentralistis ke Bhineka Tunggal Ika-an dan rasa keadilan terusik.
 Makna kemerdekaan belum sepenuhnya dinikmati. Sebagian besar rakyat masih menderita dan miskin. Pertanyaan klasik muncul selalu “Mengapa negeri yang indah dan kaya akan sumber alam tidak mampu mensejahterakan rakyatnya?” mengapa…..? ada apa dengan bangsa ini?
 Agaknya Pertama: kita lupa untuk apa kita merdeka, Kedua : kita lupa / inkar terhadap amanah para pendiri bangsa.
 Reformasi dan globalisasi telah membawa perubahan di negeri ini. Suasana demokratis tumbuh dan berkembang luar biasa dan kita disebut sebagai negara yang paling demokratis. Namun demikian kita perlu waspada terhadap ancaman yang lebih besar yaitu paham Individualisme-Liberalisme yang berbeda jauh dengan kepribadian kita bangsa Indonesia
 
Liberalisme 
Lewat globalisasi liberalisme merasuk jauh keseluruh bidang kehidupan. 
Dibidang budaya : kebersamaan, gotong royong mulai pudar muncul budaya AKU dan SERAKAH. Kesenangan kemewahan duniawi menjadi tujuan tanpa hirau sesama. Korupsi marak diseluruh bidang, baik vertikal maupun horizontal. Rasa malu, rasa bersalah, dan rasa berdosa sudah tidak ada. Semua ini membuat kesenjagan dan kecemburuan semakin tajam. Kadang kala kesabaran, kesantunan, dan keramahtamahan rakyat menjadi hilang berubah menjadi kasar, garang, ganas, dan beringas
Dibidang politik : diterapkannya demokrasi langsung, maka rakyat tidak lagi menyalurkan aspirasi politiknya lewat partai politik, tetapi langsung menggunakan hak pilihnya sendiri. Contoh nyata adalah pemilu 2009 rakyat lebih tertarik kepada figur dari pada partai politik. Partai politik telah kehilangan pamor. Jangka panjang kehidupan partai politik bisa terancam dan kehidupan demokrasi kita menjadi kabur dan cacat.
Dibidang ekonomi : pengaruh liberalisme amat terasa dimana pertumbuhan lebih diutamakan daripada pemerataan. Hasil pembangunan diukur dengan ANGKA bukan dengan RASA. Kita lupa dan tidak pernah bertanya apakah mereka (rakyat kecil) menikmati atau merasakan hasil pembangunan ini.
Begitupula dibidang kehidupan lainnya, liberalisme telah merasuk jauh kedalam. Liberalisme telah membuat negeri ini berubah cepat. Sayang perubahan yang terjadi adalah perubahan yang kehilangan substansi; perubahan yang hanya dengan pendekatan realisme-praghmatisme. Perubahan yang menimbulkan goncangan dan ketidak seimbangan.

2009 Punya Arti Strategis
 Pemilu 2009 adalah pemilu terakhir bagi generasi tua. Pemilu 2014 adalah giliran generasi muda tampil memimpin negeri ini. Oleh karena itu jadi kewajiban para pemimpin pasca 2009 untuk menyiapkan kondisi nasional yang kondusif demi suksesnya peralihan kepemimpinan pada 2014. Peralihan kepemimpinan disebut sukses bila generasi muda / para pemimpin pasca 2014 tetap berpegang teguh pada amanah para pendiri bangsa.
Oleh karena era 2014 keatas adalah era generasi muda, sengaja kita undang Dr. Bima Arya Sugiarto dan Prof. Rully Indriawan, ilmuan dan pengamat muda untuk bicara tentang masa depan bangsa. Kali ini kita bahas sistem politik dan system ekonomi Indonesia. Dengan demikian kita dapat mengetahui bagaimana sikap pandangan generasi muda tentang masa depan bangsanya. Mudah-mudahan generasi muda calon pimpinan masa depan dapat meneruskan amanat Penderitaan Rakyat (Ampera)
Waktu 5 tahun (2009-2014) untuk mempersiapkan kondisi nasional yang kondusif amatlah singkat namun harus diupayakan, demi suksesnya estafet kepemimpinan.

Dengan selesainya Pemilu 2009, maka pada kesempatan yang baik ini kita mengucapkan selamat kepada Bapak Susilo bambang Yudhoyono dan bapak Budiono sebagai Presiden dan Wakil Presiden 2009-2014, diiringi do’a semoga bapak berdua selalu mendapatkan kekuatan, petunjuk, bimbingan dan lindungan dari Tuhan Yang Maha Esa dalam memimpin bangsa dan Negara. 
Mari kita bersatu-rapatkan barisan, lupakan luka-luka lama, tinggalkan kesalahan dan kekeliruan masa lalu; mari menatap masa depan demi kejayaan NKRI tercinta.

  Sekjen
 
  Saiful Sulun

Sarasehan :
Tema Kaju ulang Undang-Undang Dasar 1945 (hasil perubahan) dalam upaya mencapai cita-cita proklamasi 17 Agustus 1945
Nara Sumber : Dr. Bima Arya Sugiarto – Sistem Politik
  Prof. Dr. Rully Indriawan – Sistem Ekonomi
Moderator : Dr. Rosita S. Noor