KEMBALIKAN GOLONGAN KARYA KE KHITOH NYA IDEA PERJUANGAN SERTA KIPRAHNYA PDF Print E-mail
Written by Administrator   
Monday, 19 October 2009 14:33

Oleh : OERIP  HARTONO  HP 

Hari2 terakhir ini Pers cetak dan elektris ramai mengulas rencana MUSYAWARAH TINGKAT NASIONAL atau  KONGGRES Partai Golongan Karya. Dimana banyak dimunculkan menover kandidat Calon Ketua Umumnya . Namun belum ada yang mengulas “Sejarah” kelahiran  Golongan Karya, ide2 yang merupakan latar belakang di dirikan Golongan Karya yang kemudian menjadi sangat  besar pada masa Orde Baru namun pada awal reformasi / Pemilu 1999 menjadi Runer UP , Pemilu 2004 menjadi Pemenang walau tidak mampu mengorbitkan pimpinan-nya sebagai Presiden, sedang pada Pemilu 2009 Partai Golkar tersungkur. Terakhir muncul perbedaan pendapat intern ke depan bagaimana  menempatkan diri sebagai oposisi atau berkoalisi dengan Presiden Terpilih/Partai Demokrat.

Mestinya untuk mencapai sasaran agar berjaya lagi harus diadakan evaluasi sebab musabab-nya kepercayaan pemilih  kok naik atau turun. Kemudian atas dasar evaluasi  itu diadakan kajian mendalam untuk diadakan penyesuaian2 sesuai dengan Situasi dan Kondisi saat ini dan mendatang , kalau hanya memunculkan figur2 calon Ketua Umumnya , itu sebatas prestasi  pribadi2 calon selama ber tahun melaksanakan tugasnya sebagai fungsionaris Organisasi , lebih dari itu, menurut penulis focus evaluasi utama adalah sebab musabab naik ­ turun nya kepercayaan rakyat/pemilih , tujuan perjuangan- dan bukti hasil perjuangan-nya sebagai Parpol yang bisa di tilik dari tokoh2nya yang di tugaskaan sebagai anggota  DPR/MPR ­RI dan DPRD Propinsi, Kabupaten dan Kota  juga sebagai Menteri Tentunya Tokoh2 Senior Partai GOLKAR belum lupa bahwa Partai  Golkar itu  asal muasalnya dari Sekretaris Bersama Golongan Karya , yang kemudian pada awal Orde Baru di rubah Fungsi/peranan  dan Struktur Organisasinya menjadi GOLONGAN KARYA yang dioperasikan layaknya Partai Politik, ikut Pemilu  sehingga  mempunyai wakil di DPR,MPR, DPRD Tingkat I dan II. SEKBER GOLKAR didirikan  atas dasar gagasan  Presiden Sukarno guna mewadahi  tokoh2 Potensial  yang  NON PARTISAN atau tidak menjadi anggota/aktivis Partai Politik manapun  ( Istilahnya sekarang Golongan Independence ) dimana saat itu jumlah Partai Politik menjamur. Tokoh2 Potensial non Partisan itu  berada di mana2,  Kalangan Cerdik Pandai, Universitas2 . ahli2 Agama,  ahli2 Strategis Militer yang saat itu berada di Birokrasi Militer karena belum ada yang mencapai usia Pensiun (  55 tahun )   Birokrasi Pegawai Negeri & BUMN, Lembaga2 Negara, Mahasiswa & Pemuda ,dll.

Gagasan Pembentukan Organisai Non Partisan itu sebetulnya sudah di mulai Bung Karno sejak awal Proklamasi dimana gagasan itu diambil over oleh Panitia Persiapan  Kemerdekaan Indonesia yang   pada sidang nya  tanggal 23 Agustus 1945 mengambil tiga keputusan penting  yakni :

a.      Pembentukan Komite Nasional Indonesia ( menunggu terbentuknya  MPR ).

b.      Pembentukan Badan Keamanan Rakyat.

c.      Pembentukan Partai Nasional Indonesia

Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP ) dilantik tanggal 29 Agustus 1945 yang beranggotakan Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia Badan Keamanan Rakyat ( BKR ) segera di bentuk di seluruh pelosok  Tanah Air dengan tulang punggung mantan PETA  yang kemudian di rubah menjadi TKR , TRI dan  akhirnya TNI  Dalam hal Pembentukan Partai Nasional Indonesia ini yang di maksud agar tetap  kompak bersatu padu, kiranya juga memperhitungkan  bahaya2 yang datang dari luar yang dapat memecah  belah, bila terdapat multi partai,. Namun ternyata banyak Tokoh2 yang menuduh   Pemerintah /Bung Karno mau membentuk  Partai Tunggal ala Partai Komunis, padahal maksudnya akan memberikan peran maksimal pada Tokoh2 non Partisan seperti yang telah di sebut diatas, sehingga  atas desakan Pimpinan2 Saat itu antara lain  Bung Syahrir, Tan Malaka dan  para bekas pimpinan Parpol2 di waktu jaman penjajahan Belanda yang pada masa  penjajahan Jepang  di larang maka berakibat di tundanya pembentukan Partai Nasional ini dengan Maklumat Pemerintah tanggal 31 Agustus 1945.  

Malahan berikutnya pada sidang KNIP tanggal 16 s/d 27 Oktober 1945 terjadi perubahan pimpinan KNIP dari Mr Kasman Singodimejo  yang mantan Daidan PETA  ke Bung Syahrir , dan giliran berikutnya Permerintah pun mengumumkan Maklumat Wakil Presiden nomer X tanggal  3 Novemper 1945  yang menyatakan bahwa Pemerintah menyukai timbulmya Partai2 Politik, karena adanya Partai2 akan dapat di pimpin jalan yang teratur segala paham yang ada dalam masyarakat.  Seperti di ketahui selanjutnya terbentuklah Kabinet Syahrir yang merupakan awal mulanya sistim  Kabinet Ministriil, padahal UUD 1945 yang saat itu  berlaku menganut sistim Presidensil. Demikian seklumit rangkuman  buku berjudul “ LAHIRNYA GOLONGAN KARYA “   karya   Drs Imam Pratignyo, pelaku sejarah yang terlibat dan  juga ditugaskan sebagai Wk Ketua dalam Dewan  Pengurus Harian Sekretariat Bersama Golongan Karya  bersama 17 Orang Tokoh lain-nya, selanjutnya , Drs Imam Pratignyo menulis bahwa :  Pada hari Selasa tanggal 20 Oktober 1964  sekitar jam 9.30 pagi di Jl  Merdeka Selatan nomer 13 Jakarta ( sekarang Gedung Bursa Valuta asing ), berhasil diadakan pertemuan sekitar 97 Organisasi non Partisan yang bertindak sebagai Pendiri Sekber Golkar  dan sampai sekarang, tanggal 20 Oktober di peringati secara resmi  sebagai HARI LAHIR PARTAI GOLKAR   Dari buku tersebut bisa di ketahui bagaimana Presiden Sukarno selalu konsisten dengan konsep2 dasar politiknya , namun sayang pada masa Orde Baru Sekber Golkar di rubah menjadi GOLONGAN KARYA dan di operasikan sebagai Partai Politik yang ikut Pemilu , berkampanye dsb dengan menyalah gunakan fasilitas2 yang diperoleh dari Organisasi2 Pendukungnya, antara lain dari KORPRI, ABRI, dll  tentu saja selalu menang mutlak pada setiap pemilu masa Orde Baru. ;  GOLKAR pun di fungsikan untuk mendukung program2 Pemerintah , jadi berbeda dengan SEKBER GOLKAR yang di fungsikan sebagai wadah menampung aspirasi2  Golongan Fungsional yang non partisan / bukan anggota atau aktivis Partai2 Politik. yang tidak mungkin menyalurkan aspirasi2 nya melalui Partai Politik.  

Pada masa reformasi  Golongan Karya pun di rubah lagi menjadi PARTAI  GOLKAR   yang ternyata  fungsi dan peranan-nya berbeda jauh dengan idea  saat  di dirikan dahulu , malahan   terlihat Partai Golkar dan Pimpinan2nya bertindak sangat pragmatis, tanpa tujuan2 perjuangan yang jelas menyebabkan pengikut2nya di akar rumput kebingungan , sehingga pada Pemilu 2009 yang lalu perolehan suaranya pun sangat menurun dan bisa diperkirakan akan terus menurun pada pemilu2 mendatang , apabila tidak ada perubahan mendasar menyangkut Fungsi Peranan dan Kiprahnya. bagaimana Partai Golkar bisa dipercaya dan di pilih  sebagai  alat perjuangangan   kalau  ternyata di operasikan sebagai lembaga bisnis , dagang sapi dsb pada setiap kesempatan loby Politik.  Hal serupa juga terjadi pada Parpol2 lain  seperti misalnya suatu parpol yang pada kampanye pemilu 1999 mengusung gambar Bung Karno sehingga Rakyat pemilih mendapat kesan bahwa Parpol tsb akan meneruskan perjuangan Bung Karno namun setelah memperoleh kemenangan dan pempinan-nya menjadi Presiden ternyata parpol tsb malah mengingkari ajaran2 Bung Karno yang secara jelas bisa dilihat terjadi perubahan2 besar pada periode itu antara lain : Perubahan UUD 1945 menjadi UUD 2002, penjualan beberapa asset BUMN, diterbitkannya Undang2 nomor 22/2001 tentang Minyak dan Gas yang diberitakan KOMPAS edisi 28 Agustus 2008 bahwa pihak Asing telah mengeluarkan dana $ US 21,1 juta atau 200 miliyar rupiah untuk memproses penerbitan Undang2 itu, seperti diketahui setiap UU di usulkan pemerintah lalu dibahas di DPR, akhirnya UU itu diterbitkan sebagai LEMBAGA NEGARA yang ditanda tangani Presiden.

Padahal UU itu sungguh sangat merugikan Rakyat, Bangsa dan Negara, Bukankah Bung Karno yang gambarnya di Usung saat kampanye telah pesan?wanti2 : “kalau salah langkah Bangsa Indonesia nanti bisa menjadi KULI di HALAMAN RUMAH SENDIRI” . dan itulah yang terjadi ; tentu saja pada pemilu2 berikutnya parpol itu menurun terus . Kembali masalah partai GOLKAR, tentu akan mengalami nasib yang sama dengan partai2 yang telah ingkar terhadap dasar perjuangan yang dari awal pendirinya yang sudah di canangkan.  Yaitu  MENDUKUNG PANCA SILA dan UUD 1945   Berbeda dengan masa lalu, rakyat “akar rumput”  Indonesai sekarang sudah pinter2 dan canggih terhadap Informasi2 penting menyangky nasibnya, terbukanya saluran2 TV dan radio asing,internet,telepon genggam dengan sms-nya mengakibatkan terbukanya informasi2 yang dahulu bisa dirahasiakan, oleh karena itu pemimpin janagn coba2 ingkar terhadap janji2 yang telah dikampanyekan. Lebih bersikap PRAGMATIS dengan memperdagangkan keputusan2 poloitik penting.   Kerusakan sistem Politik yang saat ini terpuruk secara sistemik, harus segera dibenahi karena Partai Politik adalah pilar penting demokrasi yang menerbitkan semua Undang-Undang juga Undang2 Dasar kemudian produknya di jadikan landasan bertindak (Legitimasi) bagi pemerinta/ Presiden dan kabinetnya, juga Lembaga2 tinggi lainnya. Semoga bermanfaat.

Jakarta,13 September  2009

Penulis adalah aktivis FPP 1945 Jl Senen Raya 208 JAKARTA PUSAT   

Last Updated on Monday, 19 October 2009 14:43