Perkembangan Asia Timur Penuh Tantangan Bagi Indonesia PDF Print E-mail
Written by Sayidiman Suryohadiprojo   
Sunday, 09 May 2010 12:48

Jakarta, 10 Mei 2010

China Sumber Perkembangan Dinamis Asia Timur

 

Selama satu minggu saya sempat berada di China bagian Selatan, khuusnya di kota-kota Macau, Shenzhen dan Hongkong. Ini bagi saya bukan kunjungan pertama ke kota-kota itu. Yang bagi saya amat menimbulkan kesan yang kuat adalah apa yang saya lihat di Shenzhen. Macau dari dulu adalah kota judi yang dikuasai Portugal, sedangkan Hongkong kota dagang yang dikuasai Inggeris, sebelum kembali bergabung dengan China. Dua kota itu tetap menunjukkan kegiatan yang dikenal sebelumnya, hanya sekarang sudah kembali dalam kekuasaan China. Sekalipun masih dalam status one nation two systems, yaitu secara kedaulatan masuk negara Republik Rakyat China, tetapi masih melanjutkan system pemerintahan yang mereka alami dalam kekuasaan penjajah Inggeris dan Portugal. Satu saat tentu juga ini berakhir dan Hongkong serta Macau sepenuhnya mengikuti system yang sama dengan bagian lain China.

 

Bagi saya kesan yang kuat adalah apa yang saya lihat di Shenzhen yang saya kunjungi pertama kali pada tahun 1994. Pada waktu itu pemerintah China yang sejak tahun 1979 banting stir di bawah kepemimpinan Deng Xiaoping, belum terlalu lama membangun Daerah-Daerah Ekonomi Khusus (Special Economic Zone, SEZ) untuk membuka dirinya terjun dalam ekonomi internasional. Pada tahun 1980 Shenzhen yang satu desa nelayan kecil mulai dikembangkan menjadi DEK itu. Pada tahun 1994 Shenzhen sudah tampak perubahannya menjadi kota atau daerah industri, bukan lagi satu desa nelayan. Penduduknya pun sudah meningkat menjadi sekitar 1 juta orang . Hotel-hotel modern dibangun untuk menampung tamu-tamu, terutama para investor dari luar negeri. Sudah ada bandara yang menghubungkan Shenzhen ke kota lain melalui udara. Akan tetapi saya tidak mengira bahwa pada tahun 2010 akan melihat Shenzhen sebagai kota atau daerah yang begitu maju dan indah. Pnduduknya mencapai 14 juta orang, atau sekitar 15 kali lipat tahun 1980-an. Jalan-jalan lebar, bersih dan teratur, dengan di pinggirnya dihiasi pohon-pohon hijau rindang dan bunga-bunga merah indah. Kesan saya adalah bahwa Shenzhen tidak saja telah dibangun dengan perencanaan yang matang, tetapi juga pelaksanaan atau implementasi rencana itu secara konsekuen. Hasilnya adalah kemajuan dan keindahan.

Sebenarnya saya telah pula mengalami hasil pembangunan di China yang menakjubkan. Pada tahun 1994 sebagai tamu negara saya diajak melihat permulaan pembangunan Pudong di luar kota Shanghai. Ketika itu yang namanya Pudong masih banyak rawanya dan jauh dari wujud kota, apalagi kota modern. Pada tahun 2002, delapan tahun setelah kunjungan saya sebelumnya, saya ke Shanghai lagi dan menemukan Pudong sudah menjadi kota modern dengan bangunan memesonakan, termasuk adanya Menara yang termasuk tertinggi di dunia. Bandara Pudong yang menjadi bandara Shanghai kedua dan lebih megah dari yang pertama dihubungkan dengan kota Shanghai antara lain dengan satu kereta api yang menggunakan system Maglev dari Jerman dengan kecepatan 400 km sejam. Di Jerman sendiri KA Maglev belum digunakan secara publik atau umum, tapi di Shanghai sudah melayani banyak orang secara efektif. Dengan kecepatan tinggi itu jarak bandara dengan kota dapat dicapai dalam 15 menit saja. Kemudian ada berita bahwa mungkin pemerintah China akan membuat hubungan KA Maglev antara ibukota Beijing dengan Shanghai. Kalau itu betul jadi kenyataan, maka China-lah pengguna KA Maglev utama, sedangkan yang sebenarnya mengembangkan system itu, yaitu Jepang dan Jerman, masih belum sampai taraf pengoperasiannya. Bukan main !

Akan tetapi yang maju di China bukan Shanghai dan Shenzhen saja. Juga Guangzhou dan bagian lain China Selatan berkembang pesat, demikian pula di utara sekitar ibukota Beijing yang penduduknya telah meningkat ke 20 juta orang, juga di sepanjang sungai Yang-tze sampai ke hulunya di daerah Chongking berkembang maju pesat. Pendeknya, 1300 juta penduduk China berjuang mencapai kehidupan yang lebih baik. Menurut Bank Dunia pada tahun 1981 sekitar 64 prosen rakyat China miskin (dengan ukuran di bawah USD 1 per hari). Pada tahun 2004 angka itu sesuai data Bank Dunia sudah menjadi 10 prosen, dan pada tahun 2008 menurut data internet tinggal sekitar 6 prosen rakyat China yang miskin.[1]

Padahal pada tahun 1980 China baru mengakhiri Revolusi Kebudayaan yang kejam. Kekejaman Revolusi Kebudayaan antara lain memperlihatkan para pemimpin dan rakyat China sampai hati melakukan pembunuhan terhadap orang-orang yang amat berjasa kepada China, seperti marskal Peng Teh-huai si-pahlawan Korea. China yang demikian kacaunya pada akhir tahun 1970-an telah bertubah radikal dalam 20 tahun sesudahnya, yaitu setelah Deng Xiaoping memegang kekuasaan sejak wafatnya Mao Zedong.

Sekarang pada tahun 2010 China telah mencapai GDP sebesar USD 8,77 trilyun (ukuran Purchasing Power Parity, PPP) , yaitu kedua terbesar di dunia di belakang AS dan melampaui Jepang.[2] Sejak tahun 1990 telah terwujud pertumbuhan ekonomi rata-rata 10 prosen setahun dengan penghasilan per capita pada tahun 2009 sebesar USD 6.567 (PPP). Total factor productivity growth sejak tahun 1990 sebesar 4 prosen per tahun merupakan salah satu yang tercepat dalam sejarah ekonomi dunia. China telah menjadi negara pengekspor terbesar dan pengimpor kedua terbesar di dunia, Cadangan Valuta Asing sebesar USD 2,447 trilyum adalah terbesar di dunia. Dengan begitu China yang sebelum tahun 1979 termasuk negara miskin dan terkoyak-koyak lagi oleh Revolusi Kebudayaan, telah berubah secara radikal menjadi kekuatan ekonomi utama di dunia dan diperkirakan akan melampaui AS di masa depan.

Ada yang mengatakan bahwa China mencapai prestasi itu karena meninggalkan sosialisme dan berubah ke kapitalisme. Kebanyakan yang bicara demikian adalah para pendukung neo-liberalisme, termasuk di Indonesia. Mereka mendorong agar juga Indonesia mengambil system kapitalisme dan neo-liberalisme sebagai jalan pembangunannya.

Akan tetapi pendapat itu tidak benar. Yang dilakukan China adalah memanfaatkan semua unsur dari berbagai system yang dapat membawa kemajuan bagi bangsa dan negara China, sesuai dengan petunjuk Deng Xiaoping : Tidak penting apakah kucingnya putih atau hitam, asalkan pandai menangkap tikus. Sebab itu China sekarang di satu pihak menunjukkan kesediaan turut dalam ekonomi berorientasi pasar dan berkembangnya usaha swasta, tetapi di pihak lain juga masih banyak menjalankan petunjuk sosialisme, seperti peran Pemerintah yang dominan dalam ekonomi, jumlah BUMN yang besar (sekalipun banyak yang telah ditutup) terutama untuk melakukan fungsi usaha besar. Maka mereka menamakan system itu ekonomi sosialis berorientasi pasar Tetapi yang jelas adalah kuatnya semangat kebangsaan atau nasionalisme di belakang semua kegiatan China. Terasa sekali bahwa ekonomi China berusaha memajukan seluruh bangsa China, bukan hanya individu atau golongan yang berkuasa saja seperti yang terjadi di system kapitalis. Rakyat merasakan dan menyadari itu dan karena itu semua lapisan rakyat ingin dan berjuang agar China unggul di semua bidang.

Itu semua dilandasi peran Negara atau Pemerintah yang tegas dan berani. Hal itu tampak sekali dalam besarnya investasi Pemerintah dalam pendidikan dan infrastruktur, baik untuk penyediaan listrik maupun perhubungan dan komunikasi. Berkilometer jalan raya (superhighway) dibangun antar-kota, demikian pula hubungan kereta api dibangun baru dan yang sudah ada ditingkatkan mutunya, seperti kecepatan KA antar-kota sampai 200 km sejam. Pembangunan pusat tenaga listrik terus dilakukan, termasuk yang berlandaskan tenaga nuklir. Sebab itu China agressif sekali menjalankan strategi energi dengan menjamin suplai bahan energi dari seluruh dunia, baik berupa minyak, gas maupun batubara. Strategi yang agressif itu tampak sekali dalam usahanya di Amerika Latin, di Afrika, di Timur Tengah dan di Indonesia. China sadar bahwa berlanjutnya pembangunannya amat tergantung dari kemampuannya menyediakan energi yang makin besar jumlahnya. Dan China tak hanya ingin membuat penduduknya yang terbanyak di dunia, yaitu 1300 juta orang, hidup sejahtera. China juga ingin kembali menjadi Pusat Dunia seperti 5000 tahun lalu, sebagaimana nama negaranya dalam bahasanya yaitu ChungGuo. Dan keinginan itu juga menggelorakan bagian terbesar rakyatnya. Inilah yang membuat China begitu dinamis dan mempengaruhi perkembangan Asia Timur dan bahkan dunia secara signifikan.

 

Usaha Amerika Serikat Untuk Tetap Kuasai Dunia

 

Setelah Perang Dunia 2 selesai terjadi perubahan kekuatan dunia yang menjadikan AS pengganti Inggeris sebagai negara terkuat di dunia. Ia terkuat karena kemampuan ekonomi, militer maupun teknologinya yang unggul, kemudian berakibat pada kemampuan politik internasionalnya. Selama 45 tahun Uni Soviet berusaha menggagalkan kehendak AS menguasai dunia. Akan tetapi karena kurang mampu membangun kekuatan yang cukup melebar dan terutama menitikberatkan kekuatan militernya, maka usaha Uni Soviet itu gagal pada tahun 1990. Tanpa dapat menggunakan kekuatan militernya yang hebat dan tak kalah dari AS, termasuk kekuatan nuklir strategis, Uni Soviet runtuh kekuasaannya sehingga kembali menjadi negara Russia saja. Semua negara Eropa Timur yang tadinya merupakan bagian kekuatan Uni Soviet lepas dari kontrol Moskow, bahkan termasuk Ukraina yang menjadi negara merdeka dan bukan bagian Russia.

Sejak 1990 dan berakhirnya tantangan Uni Soviet, AS benar-benar menjadi satu-satunya negara adikuasa di dunia. Ia melakukan politik luar negeri yang sangat kuat mendorong atau bahkan memaksa negara dan bangsa lain mengikuti segala kehendaknya. Antara lain tercermin dalam buku tulisan Francis Fukuyama : The End of History and the Last Man. Bahkan ada pemimpin AS yang mengatakan bahwa tidak menggunakan kekuatan AS untuk mewujudkan supremasi atas dunia, merupakan sikap yang tidak bermoral. AS menyatakan haknya melakukan pre-emptive strike terhadap Irak yang pemimpinnya tidak mau tunduk kepada AS. Tidak menghiraukan pendapat PBB dan umat manusia pada umumnya. Memang ada yang tetap berani melawan AS; ada yang melakukan perlawanan itu dengan tindakan politik seperti Hugo Chavez dan pemimpin Amerika Latin lainnya; ada pula yang melakukan perlawanan dengan kekerasan seperti Osama bin Laden dengan Al Qaeda-nya. Al Qaeda berhasil menjadi pihak yang pertama kali dalam sejarah menyerang dan memukul AS di rumahnya sendiri ketika pada tanggal 9 September 2001 menyerang dan meruntuhkan World Trade Centre di New York dan sanggup pula menyerang pusat pertahanan AS Pentagon di Washington DC.

Serangan Al Qaeda dan keberhasilannya meruntuhkan WTC memukul harga diri AS yang sedang memuncak dan dijadikan alasan untuk menyerukan Perang terhadap Terorisme. Dengan landasan itu AS menyerang Afghanistan yang sudah lama diincar oleh kaum kapitalis AS guna meluaskan dominasinya dalam penguasaan minyak di dunia. Sekali gus juga alasan untuk menyerang Irak yang sudah lama ingin dikuasai sebagai produsen minyak besar. Akan tetapi perhitungan AS meleset, serangannya ke Irak memang dalam waktu cepat dapat merebut ibukota Baghdad dan wilayah negara Irak, tetapi tidak berhasil mencapai tujuan politiknya untuk menjadikan Irak model negara demokrasi di Timur Tengah. Malahan di Afghanistan AS hingga sekarang belum dapat menguasai keadaan secara militer, apalagi politik.

Kekurangberhasilan AS di Timur Tengah sekarang ditambah dengan bahaya yang timbul dari kemajuan China sebagai kekuatan ekonomi dunia. Hal ini diperkuat lagi ketika terjadi Krisis Ekonomi tahun 2008 yang menimbulkan berbagai persoalan bagi AS, baik di dalam negeri maupun dalam hubungan internasionalnya.

Meskipun AS secara geografis tidak termasuk Asia Timur, tetapi sejak bagian kedua abad ke-19 AS telah melibatkan diri dalam Asia Timur. AS terjun dalam Perang Dunia 2 karena konfliknya dengan Jepang yang intinya adalah AS tidak memberikan toleransi kepada Jepang untuk menguasai Asia Timur dan khususnya China. Jadi sudah lama AS merasa berkepentingan dengan perkembangan Asia Timur dan khususnya China.

Sekarang kemajuan yang terjadi di China mau tidak mau merupakan bagian kepentingan dan perhatian AS, apalagi kalau kemajuan itu dapat merugikannnay. Tidak saja kemajuan ekonomi China mengancam supremasi ekonomi AS. Usaha China untuk menjamin suplai bahan energi dengan bergerak secara besar-besaran di Amerika Latin, Afrika, Timur Tengah dan Asia Tenggara juga mengancam pengaruh AS di wilayah-wilayah itu. Apalagi China berhasil merebut kerjasama dari bangsa-bangsa yang melawan AS, seperti Sudan di Afrika dan Venezuela di Amerika Latin. Juga usaha AS yang menekan Iran karena tak mau tunduk, sama sekali tak mendapat dukungan China yang berkepentingan dengan suplai minyak Iran. Dan dalam kenyataan, ekonomi AS yang sejak lama mengalami deficit perdagangan yang besar, sangat dipengaruhi oleh ekspor China yang barang-barangnya disukai konsumen AS yang sudah biasa hidup berlebihan. Problim yang timbul pada AS karena kelemahan itu dipersulit lagi oleh dampak Krisis Ekonomi yang dialami AS secara kuat.

Di pihak lain pengusaha AS sangat berminat melakukan investasi di China dengan tenaga kerjanya yang relatif murah serta sebagai pasar yang besar.

Maka makin jelas bagi AS bahwa China merupakan ancaman, paling tidak tantangan kuat, terhadap supremasi AS di dunia. Hal ini tidak dapat ditoleransi para pemimpin AS yang kemudian melakukan usaha melawan atau menggagalkan semua usaha China. Politik AS yang sekarang dekat dengan India merupakan salah satu tindakan itu. Selama sejarah baru sekarang hubungan AS dengan India dekat, bahkan menyangkut kerjasama di bidang nuklir. Ini tentu usaha untuk membendung perkembangan China ke Asia Tengah dan Asia Selatan serta mengimbangi kemajuan ekonomi China dengan kemajuan ekonomi di India.

Di bagian timur Asia Timur AS pasti akan memperkuat posisinya dengan mempererat hubungan dengan Taiwan. Apalagi makin meningkat jumlah penduduk Taiwan yang tertarik oleh sikap China untuk memungkinkan orang Taiwan berkunjung ke China. Demikian pula perkembangan politik di Taiwan yang lebih mendekat kepada China. Sudah berkali-kali China memprotes penjualan alat perang dan senjata oleh AS kepada Taiwan.

Juga amat penting bagaimana perkembangan hubungan AS dengan Russia. Tentu China akan merasa lebih aman kalau hubungan itu tidak makin membaik. Tidak saja China memerlukan suplai energi dari Asia Tengah yang akan lebih aman kalau hubungannya dengan Russia dekat, malahan China dapat membeli banyak dari Russia yang bermanfaat bagi China, seperti dalam teknologi ruang angkasa dan udara. Juga posisi Russia di utara China secara historis sangat penting bagi bagian utara China seperti Manchuria. Maka usaha AS untuk menjadi lebih bersahabat dengan Russia amat penting. Namun nampaknya hal itu tidak mudah, karena berbagai persoalan yang ada di Eropa Timur yang membuat kepentingan dua negara itu kuat berlawanan.

Tentu penting bagi AS bahwa Jepang dan Korea Selatan tetap menjadi sekutunya yang setia seperti yang sudah-sudah. Namun di pihak lain tentu negara-negara itu juga mengalami banyak perubahan sebagai akibat perkembangan China dan kondisi negaranya sendiri. Hal ini akan dibicarakan tersendiri.

Yang sangat penting adalah gerak AS di Asia Tenggara karena sudah pasti China akan makin meluaskan berbagai usahanya di wilayah itu. Adanya ACFTA yang sekarang mulai dilaksanakan adalah salah satu usaha China. Demikian pula giatnya China melakukan investasi dan hubungan untuk menjamin suplai bahan energi, khususnya batubara. Hal ini semua mau tidak mau membuat AS waspada bahwa tidak mustahil China menjadi sangat berpengaruh di Asia Tenggara. Padahal secara strategis AS tidak memberikan toleransi ada kekuatan lain menguasai posisi silang Indonesia dan Asia Tenggara pada umumnya. AS amat berkepentingan bahwa komunikasi antara Samudera Pasifik dan Samudera India terjamin dalam kekuasaan atau kontrolnya.

Memperhatikan hal-hal itu Asia Tenggara dan khususnya Indonesia kembali menjadi amat penting bagi AS, seperti ketika AS mengkhawatirkan meluasnya kekuasaan komunis atas dasar Teori Domino di Asia Tenggara. Menjadi perhatian kita bagaimana sikap dan tindakan AS untuk menjamin pengaruh dan kontrolnya di Asia Tenggara. Di pihak lain pasti China akan bergerak cepat dan tidak mustahil memanfaatkan kehadiran penduduk Asia Tenggara keturunan China yang dapat diperkirakan turut bangga dan mendukung perkembangan Tanah Leluhurnya.

 

 

 

Berbagai kemungkinan reaksi Jepang

China dan Jepang adalah dua negara paling utama di Asia Timur. Sejak dahulu kala ada hubungan antara Jepang dan China yang bersifat love-hate relationship. Pada abad pertama Masehi Jepang telah merasa terancam akan dilindas kemajuan China yang waktu itu sudah menonjol di dunia. Untuk mengatasi ancaman itu Jepang mengirimkan pemudanya ke China untuk meraih segala kemajuan China yang belum dipunyai Jepang. Pemuda-pemuda itu pulang dengan membawa segala aspek kebudayaan China dari pakaian sampai tulisan dan filsafah hidup. Hal ini kemudian sangat mempengaruhi kehidupan bangsa Jepang. Sebab itu Jepang tahu bahwa kebudayaannya sangat banyak meminjam atau mengambil dari China. Dengan usaha itu Jepang dapat mencegah kehilangan eksistensinya karena kemajuan China waktu itu. Hal itu menimbulkan semacam love relationship karena banyaknya persamaan dalam kebudayaan kedua bangsa.

Akan tetapi sifat manusia Jepang sangat kuat harga dirinya, antara lain ditunjukkan bahwa ia tidak ragu-ragu mengambil nyawanya sendiri (seppuku) dari pada menanggung malu. Dan karena itu sifatnya sangat kompetitif. Kenyataan bahwa kebudayaannya mengandung banyak pinjaman China menimbulkan perasaan yang kurang enak bagi manusia Jepang yang tinggi harga dirinya itu. Sebab itu selalu tampak sikap Jepang untuk meniadakan rasa kurang harga itu dan itu menimbulkan hate relationship. Maka love-hate relationship dalam sikap Jepang terhadap China selalu menimbulkan berbagai persoalan bagi Jepang sejak permulaan zaman dan berdampak pada lingkungannya. Ditambah lagi oleh ekspansi militer Kublai Khan untuk menguasai kepulauan Jepang yang hanya dapat diatasi Jepang karena mendapat bantuan alam berupa taifun yang mengacaukan armada China. Itulah yang disebut Jepang sebagai Kamikaze atau Angin Luhur (Divine Wind).

Sebab itu ada niat pihak Jepang untuk meniadakan ancaman China dengan menguasai bangsa itu. Niat yang kuat di sementara kalangan Jepang untuk menguasai China secara kongkrit sudah lama ada, bahkan sebelum Jepang merebut Manchuria pada permulaan abad 20. Hal itu makin kuat setelah Jepang berhasil menjadi negara modern yang kuat dan mengungguli China yang terhambat modernisasinya. Keberhasilannya mengalahkan Russia di Manchuria pada tahun 1905 makin mendorong Jepang untuk merebut dan menguasai seluruh China. Itulah yang kemudian menjadi sumber kehancurannya karena mendapat reaksi AS dan dunia Barat yang ingin juga menguasai China guna kepentingan ekonomi dan kekuasaannya.

Jepang dan AS terlibat dalam Perang Dunia 2 karena tuntutan mutlak AS agar Jepang keluar dari semua bagian China. Ternyata Jepang belum cukup kuat untuk mengalahkan AS, sekalipun berhasil mengalahkan semua kekuatan Barat lainnya yang menjajah Asia. Itulah menjadikan Jepang satu-satunya bangsa di dunia yang telah mengalami pukulan senjata nuklir ketika bom atom dijatuhkan AS di Hiroshima dan Nagasaki.

Sekarang bagaimana reaksi Jepang terhadap kemajuan China yang begitu pesat, dimulai dengan kemajuan ekonomi dan tentu meluas juga pada kemajuan di kekuatan militer dan politik.

Ketika China melakukan Modernisasi dan Reformasi Ekonomi pada tahun 1980, Jepang menyambutnya dengan positif. Itu kesempatan besar bagi perusahaan-perusahaan Jepang untuk meluaskan usahanya dan merebut pasar yang besar pula. Jepang masuk ke China dengan investasi yang besar di berbagai bidang. Akan tetapi kemudian dialaminya bahwa tidak mudah menjadikan China sasaran bagi kepentingan usaha Jepang. Hal serupa dialami semua pihak lain yang masuk ke China untuk mengambil keuntungan dari tenaga kerja murah dan pasar luas. Ternyata pemerintah dan rakyat China sangat cerdas dan cekatan mengambil manfaat dari kehadiran serta investasi bangsa lain untuk menciptakan kemajuan bagi dirinya sendiri. Ketika China menjadi makin kuat kembali menguat love-hate relationship. Mulai timbul sengketa politik, seperti masalah kekuasaan atas pulau-pulau yang diakui masing-masing sebagai miliknya, yaitu kepulauan Senkoku.

Kemajuan ekonomi Jepang yang spektakuler dari tahun 1955 hingga 1990-an membuat Jepang kekuatan ekonomi kedua di dunia setelah AS, melampaui semua negara maju lainnya. Akan tetapi sekarang kemajuan itu telah dilampaui China; GDP Jepang sebesar USD 5,07 trilyun pada tahun 2009 hanya menjadi urutan ketiga di belakang AS dan China. Juga Cadangan Valuta Asing Jepang dulu selalu terbesar di dunia, sekarang telah dilampaui China .

Dan Jepang tidak dapat mencegah bahwa China menjadi makin kuat dan berpengaruh. Menjadi pertanyaan bagaimana sikap Jepang menghadapi perkembangan ini ? Apakah akan tetap seperti sekarang menjadi sekutu setia AS ? Kalau sikap ini yang diambil Jepang maka ia akan melakukan perlawanan terhadap perkembangan China. Kemungkinan lain, tetapi yang rasanya sukar terjadi mengingat sifat Jepang, adalah Jepang bersedia menempatkan diri di bawah China dan bergabung dengan kekuatan China. Kemungkinan ketiga adalah Jepang bersikap independen dan terus berusaha mengembangkan dirinya sebaik-baiknya. Itu berarti Jepang tidak menjadi sekutu AS dalam menghadapi China, melainkan berusaha memanfaatkan hubungannya yang dekat dengan AS dan kesediaannya mengakui kemajuan China untuk memajukan kepentingannya dan kemajuannya sendiri. Dalam hal ketiga itu Jepang akan turut aktif mengembangkan Asia Timur berdampingan dengan China dan bangsa-bangsa Asia Timur lainnya. Jawaban terhadap pertanyaan ini banyak tergantung pada perkembangan dalam pikiran dan perasaan rakyat Jepang.

Selama pikiran dan perasaan itu menempatkan Jepang sebagai yang paling atas di Asia Timur, di atas semua bangsa Asia lainnya, maka kemungkinan besar Jepang tetap menjadi sekutu AS yang setia.

Akan tetapi kalau rakyat Jepang menguat pikiran dan perasaannya bahwa ia bagian dari Asia, maka ia akan bersedia berada di samping China dan bangsa-bangsa Asia Timur lainnya dalam mengembangkan wilayah itu.. Proses dan perkembangan ini akan makin kuat terjadi ketika China makin berkembang kekuatannya di segala bidang. Termasuk menguatnya pengaruh China di Asia Timur.

Tidak ada kemungkinan yang lain bagi Jepang, seperti menjadi pemimpin sendiri dari bangsa-bangsa di Asia Timur sebagaimana menjadi tujuan politiknya dalam Perang Dunia 2. Sebab pengaruh China pada bangsa-bangsa lain Asia Timur lebih kuat dari pada pengaruh yang dapat dikembangkan Jepang, yaitu pengaruh yang bersumber pada persamaan darah atau keturunan China.

Dalam bergabung dengan bangsa-bangsa Asia Timur lainnya Jepang mungkin dapat mengurangi dampak negatif dari kemungkinan dominasi China atas bangsa-bangsa Asia Timur. Sebab di pihak lain China juga sejak dulu selalu melihat Jepang sebagai bangsa dengan kemampuan merebut keunggulan, di masa kini adalah kemampuan Jepang dalam teknologi. Hal itu antara lain dapat dilihat betapa pemerintah China selalu protes kalau ada seorang perdana menteri Jepang mengunjungi Yasukuni Jinja. China melihat itu sebagai indikasi (gesture) Jepang hendak kembali bersifat agressif. Maka Jepang yang juga kuat sikap nasionalismenya, bersama negara Asia Timur lain yang kuat nasionalismenya seperti Korea dan Vietnam dapat mempengaruhi China agar kepemimpinannya di Asia Timur bukan bersifat supremasi yang mendikte (seperti kepemimpinan AS dan negara Barat umumnya), melainkan kepemimpinan yang mendorong kebersamaan dan saling membantu. Menimbulkan pengaruh agar kepemimpinan China yang cerdas dapat menyimpulkan bahwa untuk kepentingan China sendiri lebih baik menghormati kebebasan bangsa-bangsa lain untuk mengejar kemajuan dan kesejahteraannya.

Hubungan Jepang yang dekat dengan AS tanpa menjadi sekutunya akan menambah bobotnya dalam mengembangkan pengaruh yang positif terhadap kepemimpinan China.

Sebaliknya bergabung dengan kekuatan yang melawan China, yaitu AS, negara Barat lainnya dan mun gkin India, akan membuat Jepang terisolasi dari bangsa-bangsa Asia Timur lainnya. Sanggupkah dan bersediakah rakyat Jepang merasakan hal semacam itu untuk waktu lama ?

 

Berbagai Tantangan bagi Indonesia

Perkembangan Asia Timur yang disebabkan kemajuan China menimbulkan berbagai tantangan bagi Indonesia. Pertama, adalah perkembangan intern Indonesia sebagai akibat kemajuan China demikian cepat dan luas. Kedua, adalah tantangan yang timbul dari usaha AS yang melawan perkembangan itu karena kemajuan China bertentangan dengan kepentingannya. Ketiga, adalah akibat yang terjadi pada efektivitas dan kekompakan ASEAN yang menjadi sasaran berbagai usaha yang terjadi dalam persaingan antara China dan AS.

Kemajuan China yang cepat dan luas sudah berpengaruh terhadap Indonesia sekarang ini karena harus melaksanakan ASEAN-China Free Trade Agreement atau ACFTA. Adalah kenyataan bahwa Indonesia sukar menghindar masuknya berbagai rupa barang produksi China yang murah. Kalau hal itu terjadi secara luas, maka tidak mustahil produksi dalam negeri akan amat terpukul sehingga banyak harus berhenti. Hal itu akan amat buruk dampaknya pada penyediaan kesempatan kerja untuk rakyat Indonesia sehingga dapat menimbulkan pengangguran yang luas. Hal itu tidak hanya berpengaruh terhadap keadaan sosial dan ekonomi bangsa, tetapi pasti juga pada politik.

Hal itu mungkin dapat dikurangi kalau usaha AS melawan China tidak mentoleransi rusaknya masyarakat Indonesia dan untuk itu bersedia melakukan investasi dalam jumlah besar di Indonesia. Tidak hanya dalam usaha besar, tetapi terutama usaha kecil dan menengah (UKM).

Itu semua memerlukan kemampuan pemerintah dan bangsa Indonesia sendiri yang jauh lebih kuat dan efektif dari pada sekarang. Adalah kenyataan bahwa daya saing kuat dari hasil produksi China tidak hanya timbul karena daya manusia China yang ulet dan rajin, tetapi juga karena dukungan yang kuat pemerintahnya. Pemerintah China secara aktif membangun berbagai macam prasarana yang membuat produksi lebih kompetitif secara internasional. Selain itu suku bunga bank di China atas pengaturan pemerintahnya juga meringankan produksi. Demikian pula keteguhan China untuk memberikan nilai mata uangnya Renminbi atau Yuan sangat membantu untuk bersaing secara internasional, hal mana diprotes kuat oleh AS. Nilai mata uang China yang sekarang Yuan 6 untuk USD 1 dinilai terlalu undervalued dan AS menuntut agar lebih sesuai dengan kenyataan, yaitu Yuan 4 untuk USD 1. Dengan nilai yuan sekarang ekspor China mendapat bantuan amat besar. Akan tetapi pemerintah China dengan tegas menolak segala tuntutan itu dan hingga sekarang nilai yuan tetap seperti sebelumnya.

Maka kalau Indonesia hendak mempunyai daya saing kuat menghadapi China, adalah kewajiban pemerintah Indonesia untuk lebih aktif dalam membangun daya saing itu. Tidak hanya membangun lebih banyak prasarana di bidang listrik dan komunikasi, tetapi juga aturan perbankan dan keuangan lainnya. Pendeknya pemerintah harus memimpin perjuangan persaingan bangsa dengan membangun Indonesia Incorporated, seperti Jepang dinilai oleh orang AS sebagai Japan Incorporated yang sukar dikalahkan AS dalam decade yang lalu.

Untuk itu pemerintah dan bangsa Indonesia harus lebih kuat sikap nasionalisme-nya dan tidak terlalu bersikap internasional seperti sekarang. Bagaimana pun juga Pancasila sebagai Dasar Negara menyatakan perlunya Nasionalisme yang tumbuh subur dalam tamansari Internasionalisme, sebagaimana dikatakan Bung Karno. Selama nasionalisme kurang kuat, sebagaimana sekarang kondisi pemerintah dan bangsa Indonesia, tidak mungkin terwujud daya saing nasional di segala bidang dan tak mungkin terwujud Indonesia Incorporated. Kenyataannya sekarang adalah Pancasila dan Nasionalisme paling-paling hanya dibicarakan dan menjadi wacana, tetapi tidak dilakukan secara kongkrit.

Kalau pemerintah dan bangsa Indonesia kurang dapat menunjukkan dinamika yang didukung nasionalisme sukar diharapkan pihak AS melakukan investasi dalam jumlah yang kita harapkan. Mungkin paling-paling ia investasi dalam usaha besar seperti dalam pertambangan, tetapi hal itu kurang memberikan manfaat bagi perkembangan rakyat umum. Untuk menghadapi China lebih luas AS akan lebih suka menginvestasi di negara yang secara kongkrit kuat nasionalismenya, yaitu Vietnam dan Thailand. Dalam hal demikian sukar kita cegah bahwa lambat laun produksi di Indonesia dikuasai China. Karena hal demikian berdampak politik, sedangkan AS tidak akan sudi Indonesia dikuasai China secara politik, maka AS akan terus-menerus melakukan intervensi dalam bentuk intelijen, seperti menimbulkan kekacauan masyarakat dan lainnya. Indonesia akan menjadi arena perbenturan China-AS yang amat merugikan rakyat Indonesia.

Sebaliknya, kalau pemerintah Indonesia memilih berpihak AS melawan China, maka dampaknya tidak kurang gawatnya bagi rakyat Indonesia. Mau tidak mau China pun tidak sudi Indonesia dikuasai AS, sedangkan ia memerlukan banyak hal dari Indonesia. Ia akan menggunakan unsur masyarakat Indonesia yang berafiliasi secara mental dan intelektual kepada China untuk terus mengganggu keadaan bangsa Indonesia yang pemerintahnya berpihak AS.

Jadi kesimpulan jelas, yaitu untuk dapat menghadapi perkembangan Asia Timur Indonesia harus menjadi jauh lebih kuat dan mampu dari pada keadaannya sekarang. Syarat utama adalah kepemimpinan nasional yang kuat yang sanggup menggelorakan nasionalisme bangsa Indonesia kembali sehingga dihormati dan dihargai bangsa lain. Dengan dasar itu mengembangkan kemampuan efektif bangsa di segala bidang dan khususnya membangun Indonesia Incorporated yang makin kuat. Ini berarti bahwa politik luar negeri harus selalu teguh dalam jalur Politik Bebas Aktif.

Kegagalan memenuhi hal ini berarti satu Indonesia yang terus menerus dalam kekacauan yang membuat rakyat makin sengsara dan miskin.

Dengan sikap and kemampuan itu dapat dihadapi tantangan pertama dan kedua secara efektif . Untuk menghadapi tantangan ketiga Indonesia harus mengajak bangsa-bangsa lain ASEAN untuk kokoh dalam sikapnya yang independen dalam persaingan AS versus China. Pasti baik AS maupun China akan berusaha agar ASEAN berpihak kepadanya. Dengan bersikap independen yang teguh ASEAN akan lebih mampu memanfaatkan hubungannya yang baik dengan China maupun AS untuk kepentingan ASEAN. Dalam hal ini perkembangan internal Indonesia sebagai bangsa terbesar di ASEAN akan sangat berpengaruh kepada sikap ASEAN. Demikian pula dengan sikap itu ASEAN dapat berjalan bersama Jepang dan mungkin Korea yang juga mengambil sikap independen. Hal itu akan membuat kemajuan China dalam perkembangan Asia Timur jauh lebih produktif, dan memberikan manfaat kepada kemajuan bangsa-bangsa Asia Timur pada umumnya. Juga segala usaha AS untuk terus memelihara supremasi dunia tidak akan berlanjut di Asia Timur. AS harus menghargai dan menghormati bangsa-bangsa Asia Timur sebagai sesamanya tanpa ada kehendak mendikte dan menetapkan jalan untuk masing-masing bangsa, sebagaimana sekarang ia lakukan.

Maka kita melihat bahwa perkembangan bangsa Indonesia dalam menghadapi tantangan dinamika Asia Timur sangat besar pengaruhnya terhadap masa depan kawasan ini dan juga dunia. Tidak kalah pentingnya dari pengaruh dari apa yang akan dilakukan Jepang dan negara besar lain.

Semoga pemerintah dan bangsa Indonesia menyadari itu dan mengambil sikap serta melakukan usaha yang diperlukan untuk membuat Indonesia makin kuat dan mampu menghadapi segala tantangan.