POKOK POKOK PIKIRAN REVITALISASI PANCASILA PDF Print E-mail
Written by TRY SUTRISNO   
Tuesday, 22 February 2011 03:42

Kata Pengantar 

Puji Syukur Kehadirat Tuhan yang Maha Pengasih lagi Penyayang yang telah mengilhami para pendiri Negara Republik Indonesia untuk menentukan Pancasila sebagai dasar Negara dan falsafah bangsa.

Adalah karena Pancasila yang mengandung nilai-nilai luhur sehingga bangsa Indonesia dan Negara Kesatuan Republik Indonesia dapat tetap utuh hingga sekarang ini.

Namun disadari juga bahwa perkembangan jaman akan terus semakin berat, sehingga Pancasila juga harus terus direvitalisasi agar Indonesia tetap utuh dan menjadi salah satu Negara besar di dunia.

Untuk itu adalah tugas bersama bangsa Indonesia, agar Pancasila terus direvitalisasi seiring dengan perkembangan jaman.

Jakarta,  Januari 2011 

 

 I. PENDAHULUAN

 

”There is nothing as powerful as a Concept, and nothing more dangerous than a Misconception”

” Tidak ada yang lebih ampuh dari suatu konsep, dan tidak ada yang lebih berbahaya dari suatu Kesalahan Konsep”

 

Pancasila adalah suatu konsep berbangsa dan bernegara Indonesia yang digali dan dirumuskan oleh Presiden Indonesia pertama Ir. Soekarno bersama tokoh-tokoh pendiri bangsa dan negara Republik Indonesia.

Sebagai suatu konsep, memang sungguh luar biasa kekuatan Pancasila didalam mempertahankan tetap tegaknya Negara Kesatuan Republik Indonesia, yang terus menghadapi ancaman dari dalam maupun luar negeri.

Tidak tanggung-tanggung, negara negara maju dan besar beberapa kali berusaha menjajah kembali Indonesia dengan konsep yang bertentangan dengan Pancasila.

Mereka selalu berusaha mencoba menawarkan konsep yang menurut mereka sudah berhasil dinegaranya. Namun ternyata yang terjadi adalah suatu ”MISKONSEPSI” yang selalu membawa Indonesia ke ambang  kehancuran.

Memang suatu konsep yang sukses disuatu negara, belum tentu sukses di negara lain, karena kondisi sosial masyarakat antar negara yang selalu berbeda.

 

II. TANTANGAN YANG SEDANG DIHADAPI

 

A crisis is a turning point to be better or worst ”

” Krisis adalah suatu titik balik untuk menjadi lebih baik atau lebih buruk. ”

 

Suatu krisis memang selalu mengundang munculnya suatu konsep untuk mengatasi krisis tersebut.

Apabila sesuatu krisis tidak segera diatasi dengan konsep yang tepat, maka krisis akan terus berkembang dan dapat menghancurkan suatu negara bahkan suatu bangsa.

Dewasa ini, dunia dan khususnya Indonesia berada didalam suatu krisis yang berkepanjangan yang harus diatasi secara konseptual sesuai Kondisi Indonesia .

Adalah suatu kekeliruan, apabila krisis suatu negara, dapat begitu saja diatasi dengan mengambil cara-cara yang diambil oleh negara lain. Apalagi, bila cara-cara yang diajukan sudah pernah gagal di negara lain.

Sebagai contoh kegagalan IMF dan World Bank mengatasi krisis moneter di Amerika Latin.

Kemudian diterapkan di Indonesia dan akhirnya juga mengalami kegagalan.

Demikian halnya kegagalan Liberalisme dan Komunisme di negara lain, mau diterapkan juga di Indonesia, pasti akan mengalami kegagalan.

 

1.     Krisis Global.

Sesungguhnya dunia sedang menghadapi Krisis Global sejak awal abad ke-21 ini. Kalau pada akhir abad ke-20, krisis hanya terjadi dibeberapa negara sedang berkembang, namun pada awal abad ke-21 ini, ternyata krisis sudah terjadi juga di negara maju dan negara besar.

Salah satu krisis yang sangat serius dewasa ini adalah krisis lingkungan global yang tidak mampu diatasi oleh negara manapun secara sendiri-sendiri dengan teknologi canggihnya.

Terjadinya badai salju dan banjir maupun letusan gunung berapi ternyata tidak mampu diantisipasi dan diatasi secara tepat oleh teknologi canggih.

Yang dapat dilakukan oleh negara maju hanyalah menerima kenyataan dan kemudian mengakui bahwa kemajuan teknologi hanyalah bagian kecil dari kehendak Tuhan yang Maha Kuasa.

Kecuali bencana alam yang semakin berat terjadi, maka krisis sosial juga terjadi secara global termasuk negara maju.

Kesenjangan kehidupan masyarakat yang semakin berat juga terjadi di negara maju seperti halnya di negara sedang berkembang, yang menimbulkan berbagai konflik antar kelompok masyarkat maupun antar negara.

Apabila hal ini terus berkembang, maka dikhawatirkan dapat menimbulkan berbagai masalah yang kurang baik di masyarakat.

 

2.     Krisis Nasional.

Sejak tahun 1997, Indonesia menghadapi krisis berkepanjangan. Dimulai dengan krisis moneter, kemudian menjadi krisis ekonomi dan krisisi politik hingga jatuhnya Orde Baru, dibawah kepemimpinan Presiden Soeharto, pada 21 Mei 1998.

Akan tetapi jatuhnya Orde Baru, tidak dijawab dengan konsep yang tepat oleh Orde Reformasi yang ternyata ingin menghapuskan Pancasila sebagai dasar negara dan falsafah bangsa.

Orde Reformasi ternyata disesatkan oleh Miskonsepsi yang bertentangan dengan Pancasila.

Setelah Reformasi berjalan selama 13 tahun, semakin jelas terlihat, bahwa Krisis Nasional semakin berat dan arah perkembangan kehidupan masyarakat semakin jauh dari jiwa dan semangat Pancasila.

Apabila kondisi seperti ini terus berkembang, maka nasib bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia dapat menghadapi ancaman serius yang dapat membawa Indonesia ke ambang kehancuran.

Oleh karena itu berbagai cara harus dilakukan untuk meluruskan kembali cita-cita perjuangan bangsa Indonesia sesuai yang diproklamasikan 17 Agustus 1945 yang lalu.

 

III. VISI DAN MISI

 

1.     Visi.

Tetap tegaknya Negara Kesatuan Republik Indonesia yang merdeka, bersatu, berdaulat adil dan makmur berdasarkan Pancasila dan UUD 1945.

 

Sesuai amanat Pembukaan UUD 1945, maka sesungguhnya cita-cita Kemerdekaan Indonesia adalah untuk mewujudkan suatu negara yang merdeka, bersatu, berdaulat adil dan makmur.

Memang dibutuhkan waktu yang cukup panjang untuk mencapainya ditengah berbagai tantangan, hambatan, gangguan maupun ancaman yang terus dihadapi.

 

2.     Misi.

Sesuai amanat Pembukaan UUD 1945, maka misi negara, adalah :

a.      Melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia.

b.     Memajukan Kesejahteraan Umum.

c.      Mencerdasarkan kehidupan bangsa.

d.     Ikut melaksanakan ketertiban dunia.

 

Dengan berpedoman kepada misi tersebut, seharusnya Pembangunan Nasional dapat terus dikembangkan agar tetap sesuai dengan cita-cita nasional, mewujudkan masyarakat adil dan makmur berdasarkan Pancasila dan UUD 1945.

 

IV. STRATEGI.

 

 

” Strategy is ways, means and ends ”

Strategy adalah cara, sarana dan tujuan.

 

Setiap konsep yang baik haruslah dilaksanakan dengan cara yang tepat dan sarana-sarana yang cukup untuk mencapai hasil yang diharapkan dengan baik.

Konsep yang baik hanya dapat menjadi kenyataan, apabila dilaksanakan dengan strategi yang tepat, namun suatu konsep dapat menjadi suatu Miskonsepsi, apabila strategi yang dipilih tidak sesuai dengan kondisi riel masyarakatnya.

Dimasa lalu, Indonesia pernah mengembangkan Strategi Pembangunan Nasional, sebagai pengamalan Pancasila.

Banyak kemajuan yang dicapai pada waktu itu dengan menempatkan Indonesia sebagai negara berpenghasilan menengah yang sebelumnya termasuk negara miskin.

Akan tetapi setelah era reformasi, maka Indonesia turun kembali menjadi negara miskin dengan berbagai kriteria yang sungguh tidak diharapkan.

Hal ini menunjukkan bahwa Strategi Pembangunan Nasional sekarang tidak sejalan dengan Pancasila dan UUD 1945.

 

1.     Strategi dasar.

 

Sebagai suatu konsep orisinal Indonesia, maka strategi dasar didalam mempertahankan dan merevitalisasi Pancasila, haruslah bersumber dari kekuatan-kekuatan yang ada didalam jiwa dan potensi bangsa Indonesia sendiri.

Jiwa dan potensi tersebut adalah kekeluargaan atau gotong royong sesama warga bangsa.

Tanpa semangat, jiwa kekeluargaan serta kemauan untuk gotong royong menjaga keutuhan bangsa dan negara, maka akhirnya nasib bangsa dan negara akan terancam punah.

Oleh karena itu strategi dasar Indonesia, harus tetap berdasarkan Pancasila, yang mengutamakan gotong royong secara SINERGI.

Dengan semangat Pancasila, maka seharusnya Indonesia menjauhkan diri dari berbagai strategi yang tidak sesuai dengan Pancasila, apalagi yang cenderung liberalis yang memberi kebebasan kepada tiap orang atau kelompok untuk menyisihkan orang atau kelompok lain dengan segala cara.

Pengalaman selama ini yang mencoba memilih strategi dasar yang lain, hendaknya segera ditinggalkan dan mengedepankan konsep musyawarah/mufakat didalam menyelesaikan berbagai masalah yang berkembang dimasyarakat.

 

2.     Strategi Kontemporer

Menghadapi perkembangan jaman yang terus dinamis dan cepat berubah, maka diperlukan pilihan Strategi Kontemporer yang dapat disinergikan dengan Strategi dasar agar mampu menjawab tantangan jaman secara tepat.

Pengembangan strategi kontemporer harus dengan konsep yang tepat sesuai falsafah bangsa Pancasila, agar didalam pelaksanaannya semakin memperkokoh strategi dasar yang sudah berdasarkan Pancasila.

Pada kondisi bangsa Indonesia yang menghadapi krisis berkepanjangan saat ini dan munculnya berbagai kerawanan dibeberapa daerah, maka Strategi Kontemporer yang perlu dipikirkan adalah Strategi Rekonsiliasi dan Rekonstruksi.

Dengan konsep strategi tersebut, maka Persatuan Indonesia sebagai sila ke-3 dari Pancasila dapat dibangun kembali dengan semangat gotong royong dan hal-hal dimasa lalu dapat dilupakan dan bersama-sama membangun masa depan yang lebih baik.

Melalui Visi Rekonsiliasi : ”Maafkan, Lupakan dan Saling Percaya (Forgive, Forget and Trust), maka dapat diharapkan bangsa Indonesia dapat utuh kembali sebagai satu bangsa yang bersatu dan berdaulat.

Kemudian melalui Visi Rekonstruksi yang mengembangkan inovasi, maka tujuan mencapai masyarakat adil dan makmur dapat diwujudkan.

 

V.  PROGRAM

 

Dalam upaya Revitalisasi Pancasila, maka perlu dilaksanakan berbagai Program yang merupakan implementasi Pancasila secara nyata dalam berbagai bentuk sesuai perkembangan jaman.

Penentuan program tersebut, dimulai dari Jangka Pendek, Jangka Sedang dan Jangka Panjang, terutama yang secara langsung menjawab kepentingan rakyat banyak.

Pada kondisi masyarakat yang sedang mengalami berbagai kesulitan dewasa ini, terutama yang berada didaerah bencana, maka partisipasi masyarakat dan Pemerintah hendaknya merupakan bagian dari upaya implementasi Pancasila, tanpa harus menjelaskan bahwa yang dilakukan adalah Kampanye Pancasila.

Rakyat sesungguhnya sudah cukup mengerti dan dapat membedakan, bagaimana hidup bermasyarakat yang sesuai atau kurang sesuai dengan Pancasila.

Rakyat tidak membutuhkan hidup yang bermewah-mewah, namun yang mereka butuhkan adalah program yang dapat menjamin kehidupan sehari-hari dan masa depan anak-anaknya.

Melalui perencanaan Pembangunan Nasional yang baik dan memihak rakyat, maka hal tersebut sangat mungkin diwujudkan.

Terutama melalui perencanaan pembangunan di daerah pedesaan dan mengembangkan agro industri, maka kehidupan masyarakat akan menjadi lebih baik sehingga terwujud Keadilan Sosial bagi seluruh rakyat  Indonesia.

 

1.     Jangka Pendek.

Pada kondisi masyarakat seperti sekarang ini, diperlukan Program Jangka Pendek untuk menyadarkan kembali masyarakat betapa perlunya Pancasila diterapkan dalam kehidupan sehari-hari dalam rangka Revitalisasi Pancasila.

Hal ini dapat ditempuh dengan mengembangkan berbagai kegiatan didalam masyarakat yang bersifat gotong royong.

Dengan berbagai kegiatan gotong royong maka masyarakat segera dapat disadarkan kembali bahwa mereka adalah suatu bangsa yang berada dalam suatu keluarga besar yang sejak awalnya menjadi suatu bangsa melalui suatu persamaan nasib dan diciptakan Tuhan Yang Maha Esa menjadi suatu bangsa.

Beberapa program yang sebenarnya segera dapat dilaksanakan adalah Program Padat Karya yang dapat dilaksanakan oleh Pemerintah bersama swasta dan masyarakat.

Program tersebut terutama yang langsung menyentuh kebutuhan masyarakat, terutama membangun prasarana dan instalasi kebutuhan air, jalan dan lingkungan sehat bagi masyarakat kota maupun pedesaan.

Sangat disayangkan, banyak program pemerintah yang sesungguhnya dapat dikerjakan masyarakat dengan padat karya, namun dalam pelaksanaannya dikerjakan oleh swasta dengan menghabiskan biaya yang kurang tepat.

 

2.     Jangka Sedang.

Pada jangka sedang, segera harus dimulai kembali mengajarkan Pancasila di sekolah-sekolah hingga Perguruan Tinggi dengan muatan materi sesuai tingkatannya.

Bahkan sesungguhnya, dengan berpedoman kepada Pancasila, akan dapat dirumuskan berbagai disiplin ilmu yang lebih sesuai dengan kondisi masyarakat Indonesia.

Kalau selama ini berbagai disiplin ilmu masih mengapdopsi dari negara maju, maka sekarang ini, sesungguhnya sudah saatnya Indonesia mengembangkan berbagai disiplin ilmu yang berdasarkan Pancasila.

Melalui pendidikan yang berdasarkan Pancasila, maka secara strategis, pola pikir masyarakat terbentuk menjadi lebih mudah memahami perkembangan kehidupan yang berdasarkan Pancasila.

Apabila materi pelajaran sosial yang diajarkan di sekolah, dijabarkan dari Pancasila, maka dapat diharapkan manusia Indonesia, menjadi manusia yang seutuhnya sesuai kehidupan di Indonesia dengan mengamalkan sila-sila dari Pancasila.

Adalah suatu hal yang wajar apabila Indonesia kemudian mengembangkan Ilmu Politik, Ilmu Ekonomi, Ilmu Hukum, dan berbagai Ilmu Sosial yang lain yang merupakan jabaran dari Pancasila.

 

3.     Jangka Panjang.

Pada jangka panjang, maka Revitalisasi Pancasila, perlu mengembangkan berbagai program secara sistematis untuk mewujudkan masyarakat Indonesia yang lebih bersatu, adil dan makmur berdasarkan Pancasila.

Mengamati kondisi kehidupan berbangsa dan bernegara saat ini, maka pada jangka panjang harus diyakinkan, bahwa sistem pemerintahan negara, harus benar-benar sesuai dengan Pancasila dan UUD 1945.

Sangat disayangkan, bahwa Negara Kesatuan Republik Indonesia yang sesungguhnya dapat hidup lebih baik dengan Pancasila, tetapi karena ulah sekelompok orang tertentu, kemudian berkembang dengan sistem pemerintahan yang bertentangan dengan jatidirinya.

Saatnya bangsa Indonesia menyadari kembali secara sungguh-sungguh, menyusun suatu sistem pemerintahan yang berdasarkan Pancasila demi mencapai masyarakat adil dan makmur.

Dengan mengambil pengalaman selama ini dan mengacu kepada penjelasan UUD 1945, maka dapat disusun kembali sistem pemerintahan yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945.

 

 

VI. TANTANGAN MASA DEPAN.

 

1.     Umum.

Secara umum tantangan masa depan akan berkembang lebih dinamis pada berbagai bidang kehidupan masyarakat, terutama pada bidang Ideologi, Politik, Ekonomi, Sosial Budaya, Pertahanan Keamanan, maupun bidang kehidupan masyarakat lainnya, sebagai akibat dampak silang dari beberapa bidang kehidupan masyarakat didalam maupun diluar negeri.

Dengan perkembangan kemajuan Ilmu Pengetahuan dan teknologi, maka tantangan masa depan juga semakin memberi harapan sekaligus berbagai masalah yang ditimbulkannya.

Ditengah berbagai tantangan yang dapat terjadi, maka sangat diperlukan, adanya suatu konsistensi didalam mengembangkan kehidupan berbangsa dan bernegara, agar tidak menjadi tersesat apalagi dikendalikan oleh bangsa lain.

Adanya terus keinginan negara-negara maju untuk mempengaruhi atau bahkan mengendalikan negara-negara sedang berkembang, hendaknya dicermati, dan disikapi secara bijak, agar posisi Indonesia dapat berperan secara aktif untuk turut memelihara perdamaian dunia seagaimana amanat Pembkuaan UUD 1945.

 

a.     Ideologi.

Setelah gagalnya ideologi Komunis di ”Uni Soviet” pada akhir dekade 80’an kemudian ideologi Liberal menjadi acuan bagi banyak negara berkembang termasuk Indonesia.

Banyak elit politik hingga awal abad ke 21 ini masih terbuai dengan janji-janji liberalisme yang masih berusaha untuk bertahan sekuat-kuatnya.

Namun dengan pengalaman Reformasi yang memasuki tahun ke-14 dewasa ini, seharusnyalah segera disadari oleh Reformis yang beraliran liberal untuk tidak meneruskannya dan segera kembali ke Pancasila.

Memang tidak mudah meninggalkan ideologi liberal bagi sebagian orang, karena berbagai harapan yang dijanjikannya.

Akan tetapi mereka sekarang juga seharusnya melihat, betapa negara-negara yang selama ini menganut ideologi liberal, justru sedang mencari ideologi lain yang lebih memberi kemungkinan bagi mereka untuk bisa hidup lebih baik.

Mungkin saja tidak tertarik dengan ideologi Pancasila, akan tetapi bagi Indonesia sudah seharusnya untuk segera sadar kembali, bahwa tantangan ideologi lain dimasa depan, hanya dapat dihadapi secara tepat dengan ideologi Orisinal Indonesia, yaitu Pancasila.

 

b.     Politik

Sistem politik yang sedang berkembang dewasa ini telah membawa Indonesia kedalam suatu kehidupan politik yang didominasi oleh kekuasaan dan uang.

Kondisi ini sungguh tidak sesuai dengan konsep Pancasila yang dijiwai oleh semangat kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan.

Dalam sistem politik seperti sekarang ini dapat membawa masyarakat Indonesia semakin liberalistis dan akhirnya dapat meninggalkan Pancasila.

Adalah hal yang mustahil, dengan sistem politik seperti sekarang ini dapat dihasilkan suatu pemerintahan yang stabil, dengan kondisi masyarakat yang sangat majemuk.

Apabila kondisi seperti ini terus berkembang, maka kemudian Indonesia dapat berkembang menjadi Negara Federal dan terbuka kemungkinan menjadi Negara-negara kecil yang merdeka sendiri dan tidak lagi berdasarkan Pancasila.

Oleh karena itu tantangan perubahan sistem politik harus mendapat perhatian secara sungguh-sungguh agar Indonesia tidak terjebak dalam sistem yang bertentangan dengan Pancasila.

 

c.      Ekonomi.

Sejak kemerdekaan, memang Indonesia belum berhasil melaksanakan suatu sistem ekonomi yang sejalan dengan sistem politik berdasarkan Pancasila.

Amanat Penjelasan UUD 1945, memang mengharapkan terciptanya demokrasi politik dan demokrasi ekonomi secara bersamaan. Namun kuatnya tekanan sistem ekonomi pasar yang dibawa oleh Negara-negara maju dengan sistem politik yang liberal, telah mengakibatkan sistem ekonomi nasional (koperasi) menjadi tidak dapat berkembang baik.

Sistem ekonomi pasar yang kapitalistik telah menguasai dunia dalam waktu ratusan tahun dan berhasil juga ”menjajah” beberapa Negara secara langsung maupun tidak langsung.

Akan tetapi krisis ekonomi yang selama beberapa tahun terakhir ini juga mengancam Negara maju, sehingga memberi kesempatan bagi Negara berkembang termasuk Indonesia untuk mampu mengembangkan sistem ekonomi sendiri yang sesuai lingkungannya.

Sesungguhnya krisis ekonomi masa lalu dapat menjadi pelajaran berharga bagi Indonesia didalam menghadapi tantangan bidang ekonomi dimasa depan.

 

d.     Sosial Budaya.

Perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Iptek) yang sangat cepat secara langsung maupun tidak langsung akan mempengaruhi perkembangan sosial budaya masyarakat.

 

Ada kecenderungan sistem sosial budaya masyarakat modern semakin cepat mempengaruhi masyarakat tradisional, seperti di Negara sedang berkembang.

Dalam beberapa hal memang kehidupan modern juga diperlukan, dalam rangka kehidupan antar bangsa yang perlu saling tergantung satu sama lain.

Aakan tetapi kehidupan modern yang membawa juga kehidupan yang liberal-individualistik, dapat merusak sistem budaya masyarakat Indonesia yang bersifat kekeluargaan.

Menghadapi kecenderungan seperti ini, perlu ada sikap yang pro-aktif, sehingga masyarakat tidak apriori dan juga tidak larut didalam kehidupan masyarakat modern.

Belajar dari pengalaman beberpa Negara maju yang tetap dapat menjaga jatidirinya, maka seharusnya Indonesia juga dapat menjadi Negara maju, tanpa meninggalkan jiwa Pancasila.

 

e.     Pertahanan dan Keamanan.

Posisi geostrategi Indonesia yang sangat strategis akan semakin penting dimasa depan mengingat sumber daya alam strategisnya yang cukup  besar.

Pengalaman dalam beberapa tahun terakhir ini menunjukkan adanya penurunan didalam kemampuan Pertahanan dan Keamanan, sehingga Negara tetangga pun kadang-kadang berani menunjukkan sikap yang kurang bersahabat dan kegiatan teroris Internasional berani masuk ke Indonesia.

Hal-hal seperti ini seharusnya tidak boleh terjadi, karena hal itu dapat menjadi awal bagi ancaman serius bagi keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945.

Dalam menghadapi tantangan yang semakin besar dimasa depan, baik yang bersumber dari luar maupun dalam negeri, maka perlu penysunan sistem Pertahanan dan Keamanan yang tangguh untuk menghadapinya.

Disamping itu, Indonesia juga perlu berperan turut menciptakan perdamaian dunia, sehingga tantangan pada bidang pertahanan dan kemanan hendaknya terus mendapat perhatian yang tepat.

 

2.     Khusus.

 

a.     Lingkungan.

Tantangan pada bidang lingkungan, baik fisik maupun non fisik, merupakan tantangan yang perlu mendapat perhatian khusus, karena telah menjadi bagian dari tantangan global.

Posisi geostrategis Indonesia yang juga merupakan ”paru-paru” dunia, harus dijaga sedemikian rupa, dan mendapat perhatian khusus, agar tidak menjadi bencana nasional maupun internasional.

Memang Negara-negara didunia sudah sangat terlambat menyadari kerusakan lingkungan dewasa ini dan akibatnya sungguh sangat berat bagi kehidupan manusia dimuka Bumi.

Bagi Indonesia yang sedang menghdapai berbagai bencana hampir diseluruh daerah, hendaknya secara sungguh-sungguh memperhatikannya, agar bahaya yang lebih serius tidak terjadi.

Beberapa tantangan lingkungan yang dapat semakin berat dimasa mendatang, antara lain adalah akibat kerusakan hutan dan penambangan liar diberbagai daerah.

Kerusakan lingkungan yang semakin parah, dapat mengakibatkan tujuan Nasional mencapai masyarakat adil dan makmur menjadi terancam

b.     Kemiskinan.

Masalah kemiskinan, merupakan masalah yang perlu mendapat perhatian khusus, karena dapat menjadi tantangan yang semakin serius dimasa depan.

Dengan potensi sumber daya alam dan sumber daya manusia maupun sumber daya lainnya, sesungguhnya bukan tidak mungkin untuk mengatasi kemiskinan secara sistematis.

Kegagalan Pemerintah didalam mengatasi kemiskinan secara sistematis akan berdampak sistematis kepada bidang-bidang kehidupan yang lain, baik politik, ekonomi, sosial budaya dan pertahanan-keamanan.

Menghdapai tantangan masalah kemiskinan yang makin cukup berat dimasa mendatang, maka langkah sistematis yang cukup besar harus dapat dilaksanakan agar kehidupan masyarakat dapat lebih baik.

Apabila masalah kemiskinan tidak dapat diatasi secara baik, maka akibatnya dapat menimbulkan berbagai masalah lain yang dapat juga berkembang menjadi masalah politik yang mengancam persatuan nasional.

Belajar dari pengalaman masa lalu, maka masalah kemiskinan menjadi salah satu alasan bagi beberapa daerah untuk melakukan tindakan yang berlawanan dengan Pemerintah Pusat.

VII. KENDALI STRATEGIS

 

Belajar dari pengalaman masa lalu didalam menjaga NKRI yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945, maka sangat dibutuhkan adanya kendali strategis yang akan menjadi sarana pengendalian agar Revitalisasi Pancasila dapat diikuti dan terus berlanjut dari generasi ke generasi.

 

1.     UUD 1945.

UUD 1945 adalah kendali utama didalam Revitalisasi Pancasila, karena rumusan Pancasila berada didalam Pembukaan UUD 1945 dan Batang Tubuh serta Penjelasannya bersumber dari Pancasila.

Segala upaya Revitalisasi Pancasila, haruslah berdasarkan hukum karena Indonesia adalah negara hukum.

Apabila ada penyimpangan didalam penjabaran UUD 1945 atau perubahan UUD 1945, maka terbuka kemungkinan terjadinya perubahan atau penyimpangan perkembangan kehidupan masyarakat yang kurang sesuai dengan jatidirinya.

Setelah adanya Perubahan UUD 1945, pada tahun 1999-2002, jelas terlihat adanya perubahan sistem pemerintahan negara yang jelas kurang sesuai dengan Pancasila.

Dengan kenyataan ini, maka seharusnyalah untuk segera melakukan Kaji Ulang terhadap Perubahan UUD 1945, agar pelaksanaan sistem pemerintahan negara kembali sesuai Pancasila.

 

2.     ”GBHN”

Sesungguhnya setiap negara seharusnyalah mempunyai Garis-Garis Besar Haluan Negara, yang menjadi pedoman utama bagi suatu bangsa untuk terus berkembang secara baik sesuai jatidirinya.

Adalah kurang tepat, apabila sesuatu bangsa kemudian berkembang sesuai kemauan  suatu  atau beberapa partai politik tertentu, apalagi bila partai tersebut mempunyai aspirasi politik yang bertentangan dengan Pancasila.

Pengalaman pada era reformasi dengan hilangnya GBHN dari UUD 1945, maka sangat terasa, bahwa arah Pembangunan Nasional sudah kurang sesuai dengan jiwa dan semangat Pancasila.

Kalau dimasa lalu ditentukan Pembangunan Nasional sebagai pengamalan Pancasila, dan dijabarkan didalam GBHN, namun dengan hilangnya GBHN, maka secara tidak langsung, arah Pembangunan Nasional menjadi kurang jelas.

Adanya anggapan bahwa Rencana Pembangunan Jangka Panjang dan Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) sebagai pengganti GBHN, sungguh menyesatkan, karena visi, misi dan programnya sudah berbeda.

 

3.     Undang-Undang.

Indonesia sebagai negara hukum, haruslah melakukan Revitalisasi Pancasila, sejalan dengan aturan hukum yang berlaku secara nasional.

Adanya aturan hukum yang bertentangan dengan Pancasila, secara langsung akan menjadi hambatan dalam upaya Revitalisasi Pancasila.

Setelah adanya Perubahan UUD 1945, maka cukup banyak UU yang menjadi turunannya, kemudian menyimpang dari jiwa dan semangat Pancasila.

Hal ini terlihat pada Undang-Undang, baik dibidang politik, ekonomi maupun Sosial Budaya yang semakin liberalistis, bahkan cenderung mengakomodir kepentingan asing.

Apabila hal seperti ini terus berlangsung, maka pada jangka panjang, Indonesia dapat semakin jauh dari jatidirinya atau malah menjadi negara yang dikendalikan oleh negara lain.

Oleh karena itu perlu segera untuk terus menerus meyakini bahwa Undang-Undang yang dibuat oleh DPR bersama Pemerintah selalu berjiwa Pancasila.

Hendaknya disadari, bahwa suatu Undang-Undang yang dibuat DPR bersama Pemerintah, jangan sampai mendapat masukan dari pihak asing, yang dapat mempengaruhi substansi Undang-Undang tersebut, dipengaruhi pihak asing.

 

VIII. KESIMPULAN DAN SARAN.

 

 

1.     Kesimpulan.

Mengamati perkembangan kehidupan berbangsa, bernegara dan bermasyarakat dewasa ini, maka upaya Revitalisasi Pancasila harus segera dilaksanakan, apabila tidak ingin melihat terjadinya hal-hal yang terus mengancam keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia, berdasarkan Pancasila dan UUD 1945.

Belajar dari pengalaman dimasa lalu dan dewasa ini, terutama dengan adanya Perubahan UUD 1945 pada tahun 1999-2002, maka semakin jelas terlihat, bahwa bangsa dan negara mengalami ancaman serius, apabila ada upaya menghilangkan Pancasila atau meminggirkan Pancasila.

Banyak yang belum menyadari bahwa Pancasila adalah jiwa bangsa Indonesia dan satu-satunya jatidirinya bangsa Indonesia yang harus tetap utuh dan tidak boleh berubah.

Jaman boleh saja berubah dan dunia dapat semakin maju, akan tetapi Indonesia adalah sesuatu bangsa dan negara yang harus tetap dapat berkembang dengan jatidirinya Pancasila.

Bangsa Indonesia jangan sampai mencoba meniru jatidiri bangsa lain yang jelas dapat merusak dirinya sendiri dan mungkin menjadi ancaman bagi bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

 

2.     Saran.

Guna mendukung upaya Revitalisasi Pancasila, maka perlu dilakukan berbagai upaya secara sistematis, antara lain sebagai berilkut.

a.      Melakukan berbagai kegiatan dimasyarakat yang bersifat gotong royong, sebagai inti menumbuhkan kesadaran akan jiwa Pancasila.

b.     Mengajarkan kembali materi Pancasila di sekolah-sekolah maupun Perguruan Tinggi dengan materi yang sesuai dengan tingkatannya.

c.      Segera melakukan Kaji Ulang terhadap Perubahan UUD 1945 yang terjadi pada tahun 1999-2002, agar sistem pemerintahan Negara dapat ditata kembali sesuai jiwa dan semangat Pancasila.

 

Jakarta,    Januari 2011.

Last Updated on Tuesday, 22 February 2011 12:01