DI INDONESIA TIDAK ADA MEDAN TANK ? PDF Print E-mail
Written by Sayidiman Suryohadiprojo   
Wednesday, 04 April 2012 22:50

Di Indonesia sedang terjadi perdebatan apakah tepat TNI-AD beli tank Leopard 2A6 dari Belanda. . Ada yang mengatakan bahwa medan Indonesia tidak cocok untuk tank, terutama untuk Leopard dengan berat antara 50-60 ton..Selain itu ada yang mempersoalkan apakah pengadaan MBT atau Main Battle Tank tinggi prioritasnya, mengingat TNI menghadapi masalah yang berbeda sifatnya, seperti persoalan Papua.

Perdebatan seru yang terjadi di masyarakat dan DPR acap kali menunjukkan bahwa yang berdebat kurang memahami subyek yang diperdebatkan, yaitu Leopard yang tegolong tank medium dengan sifat-sifatnya serta peran yang dapat dilakukan dalam pertahanan. Sebab itu perlu diuraikan apa barang yang dinamakan tank itu.

Terlebih dahulu perlu diuraikan apa tank itu. Tank mulai ada dan berkembang pada akhir Perang Dunia 1 ketika Inggeris mengakhiri stalemate yang terjadi dalam medan tempur Peranciis Utara. Offensif Jerman mennuju Paris terhenti karena tentara Sekutu Inggris-Perancis berhasil membangun pertahanan dengan parit-parit yang memanjang sampai pantai barat Pernacis dan gerka maju pasukan infantri Jerman tidak cukup cepat untuk melingkari pertahanan parit yang dibangun hingga pantai laut. Dalam pertahanan parit iu peran senjata mitralyur amat penting dan efektif. Tembakan mitralyur dari sistem parit tidak dapat dipatahkan oleh penyerang Jerman dengan senjata lengkungny, mortir maupun meriam artilleri karena mitarlyur dan pelayannya berlindung dalam parit ketika tembakan senjata lengkung penyerang berlangsung. Ketika tembakan senjata lengkung berhenti dan infanteri bergeak menyerang, mitralyur timbul dari dalam parit untuk menyapu pasukan infanteri yang menyerang.

Pasukan Jerman yang terhenti offensifnya kemudian juga membangun parit pertahann untuk mencegah pasukan Sekutu melakukan serangan balas. Maka parit Sekutu berhadapan dengan parit Jerman yang sama efektifnya dalam menggagalkan serangan.Terjadilah stalemate dalam perang parit medan perang Perancis,

Akan tetapi Inggeris mengakhiri kemacetan tempur itu dengan inovasi berupa kendaraan lapis baja yang tahan tembakan mitralyur dan dengan roda rantai mampu mengatasi medan penuh parit pertahanan… Inovasi Inggeris berupa kendaraan baja yang diberi nama Tank berhasil merontokkan pertahanan parit. Tank mampu menghadapi tembakan mitralyur dengan bajanya dan roda rantainya memberikan daya gerak melintasi medan yang dipenuhi parit. Serangan sekarang dapat berjalan dengan dipelopori tank, diikuti pasukan infanteri. Perkembangan operasional ini tidak hanya berdampak taktik dan operasi belaka, melainkan memberi faedah strategis dan membuat tentara Jerman tidak mampu lagi melawan. Itulah sebab utama Jerman kalah Perang Dunia 1.

Tetapi setelah Perang Dunia 1 justru Jerman yang mengembangkan tank sebagai system senjata pertempuran darat yang menonjol. Kolonel Heinz Guderian (kemudian dalam Perang Dunnia 2 naik pangkat hingga akhirnya Generaloberst)mengembangkan cara tempur baru dengan tank sebagai inti. Tadinya tank hanya sebagai senjata bantuan infanteri, seperti artilleri dan zeni, karena infantrilah yang dianggap keesenjataan utama yang dibantu oleh semua kesenjataan lain dalam mencapai kemenangan tempur dan perng. Guderian mengubah cara berpikir itu. Ia hendak memanfaatkan daya gerak tank dengan kecepatan sampai 50 km sejam dan daya tahan tank berupa baja, ditambah daya tembak tank berupa meriam 76 mm yang kemudian berkembang ke 90 mm, untuk membangun serangan cepat. Dalam konsep itu justru Infanteri membantu tank, untuk bersama pasukan Zeni membersihkan lapang ranjau yang menghambat gerak tank. Setelah tank aman bergerak maju, Infanteri dan Zeni naik kendaraan angkut lapis baja (armored personnel carrier, APC) untuk mengikuti gerak tank yang cepat menembus pertahanan musuh. Artilleri pun menjadi meriam yang ditempatkan di kendaraan baja. (selfpropelled artillery, SPA) Gerak pasukan tank yang menembus pertahanan musuh tidak berhenti setelah merebut sasaran di garis pertahanan depan, melainkan dengan cepat mencapai daerah logistik musuh. Gerakan cepat itu menimbulkan kekacauan dalam pertahanan musuh. Kemudian Guderian menyempurnakan konsepnya dengan mengikutsertakan pembom penukik (dive bomber) angkatan udara turut menyerang pertahanan serta daerah logistik musuh. Selain serangan pembom itu menambah korban manusi , ia terutama penting untuk menimbulkan kekacauan dan demoralisasi pihak pertahanan.

Konsep Guderian mula-mula ditentang para jenderal tua Jerman karena dianggap fantastis. Akan tetapi Guderian memperoleh dukungan Hitler yang sedang mematangkan ambisinya untuk memperluas wilayah Jerman dengan merebut Polandia di timur Jerman dan Eropa Barat serta Eropa Utara.

Inilah yang memungkinkan Jerman dengan serangan cepat menguasai Polandia. Juga dengan blitzkrieg ini Jerman berhasil merebut Paris dalam 21 hari yang dalam Perang Dunia 1 tak dapat dibuatnya. Sejak itu konsep serangan Jerman ditiru oleh tentara lain dunia. Dalam operasi tempur darat hamper setiap offensif dimulai dengan serangan tank.

Buat mereka yang menganggap daerah bukit bukan medan tank perlu mempelajari offensif Jerman lewat daerah Ardennen (Ardennen offensive) bulan Mei 1940, yaitu awal Perang Dunnia 2. Para pemimpin Perancis mengira tak mungkin ada serangan tank liwat Ardennen yang penuh bukit itu. Perancis yang membangun perbentengan Maginot (Maginot Line) setelah Perng Dunia 1 untuk menahan offensif Jerman, tidak menyertakan daerah Ardennen karena penuh bukit itu. Sebab itu gerakan Jerman tersebut merupakan pendadakan operasional yang amat penting. Pasukan Jerman dengan cepat melingkari Garis Maginot dan menembus ke pantai Laut Utara. Tentara Inggeris yng posisinya di Belgia sebelah utara Garis Maginot merasa diri terpotong dari sistem pertahanan Sekutu di Eropa Barat dan dengan terbirit-birit meninggalkan daratan Eropa (Dunkirk Retreat).

Konsep Serangan Kilat baru ada lawan konsep penahannya setelah Jerman pada tahun 1941 juga menyerang Uni Soviet, setelah berhasil menguasai Eropa Barat dan Eropa Utara, kecuali Inggeris. Setelah Tentara Uni Soviet mengalami banyak pukulan sehingga hampir saja kehilangan ibukota Moskow dan kota Stalingrad, mereka berhasil mengembangkan konsep pertahanan mobil dan konsep pertahanan berlapis. Dua konsep pertahanan itu mengandung peran tank yang penting untuk serangan balas..

Mereka yang beranggapan bahwa tank tak dapat beroperasi di medan dengan banyak sungai atau air harus mempelajari offesif tentara Inggeris di Burma, sekarang Myanmar dalam Perang Dunia 2 (Burma Campaign) . Waktu itu pihak Jepang mengira tentara Inggeris tak dapat menggunakan MBT untuk menyerang karena banyak sungai. Terbukti perkiraan Jepang salah sebab pasukan Zeni Inggeris dapat membantu gerak pasukan tank dengan sangat efektif. Sejak itu dalam ilmu pertahanan berlaku ajaran bahwa gerak tank tergantung kemampuan Zeni .

Dalam pertahanan manfaat tank efektif untuk menghadapi serangan lintas udara (airborne offensive) dan serangan pendaratan pantai. Operasi Lintas Udara Sekutu dalam Perang Dunia 2 untuk merebut Arnhem agar cepat bisa masuk wilayah Jerman pada tahun 1944 gagal total karena intelijen Inggeris tidak tahu bahwa di daerah Arnhem ada satu brigade tank Jerman. Pasukan lintas udara yang mendarat dihancurkan pasukan Jerman tersebut. Kegagalan Sekutu itu oleh Hollywood dijadikan film A Bridge Too Far.

Sebab itu dapat dimengerti mengapa Singapore yang Negara satu pulau membeli 96 tank Leopard 2A4. Sekurangnya kehadiran 96 Leopard itu membuat pihak lain berpikir kalau mau menyerang Singapore, baik dari udara maupun laut. .

Yang mengatakan bahwa medan Indonesia tidak cocok untuk tank rupanya membayangkan bahwa Indonesia diliputi rawa belaka. Dan bahwa medan berbukit tidak cocok untuk tank. Jelas sekali bahwa banyak bagian semua pulau utama Indonesia bukan daerah rawa. Sebab itu di Sumatra, Jawa, Sulawesi bahkan Kalimantan cukup luas daerah yang baik untuk gerakan tank dan masuk akal kalau ada rencana membangun 1 brigade tank, msing-masing untuk pulau Sumtra, Jawa dan Sulawesi. Tinggal menunggu kemampuan keuangan negara memungkinkan.

Tentang faktor prioritas dihadapkan dengan masalah Papua dan lainnya yang sejenis. Harap diperhatikan bahwa untuk menghadapi masalah itu yang utama adalah pengembangan soft power yang didukung TNI dengan kegiatan Territorial yang efektif untuk merebut pikiran dan perasaan masyarakat yang terkena masalah. Diperkuat dengan kegiatan Intelijen yang efektif pula.

Seluruh kegiatan meghadapi Papua itu tidak perlu menjadi penghambat TNI menyempurnkan kondisinya sebagai kekuatan pertahanan dengan sistem persenjataan yang sesuai, termasuk kehadiran pasukan Tank dalam TNI-AD Dengan begitu TNI mendukung terwujudnya Daya Tangkal yang efektif dalam rangka pembangunan Ketahanan Nasional. Kondisi internasional yang serba dinamis dan sukar diprediksi hanya dapat dihadapi dengan Ketahanan Nasional yang bukan omongan dan semu belaka, melainkan dengan kekuatan yang kongkrit dan nyata.