MEMBANGUN SIKAP EFEKTIF MNJADI BUDAYA BANGSA PDF Print E-mail
Written by Sayidiman Suryohadiprojo   
Wednesday, 04 April 2012 22:57

Sikap Efektif adalah kemampuan untuk selalu dapat mencapai Tujuan atau menghasilkan sesuatu yang ditetapkan. Masyarakat yang mempunyai sifat itu (to get things done) adalah Masyarakat Efektif, . Sifat yang belum ada sepenuhnya di Indonesia. Kita begitu sering mengalami rencana-rencana bagus tidak diimplementasikan untuk menjadi kenyataan. Kemampuan dan semangat implementasi masih kurang kuat di Indonesia.

Memang menjadi masyarakat Efektif memerlukan kebiasaan-kebiasaan yang masih belum cukup ada secara luas dan mendalam di kehidupan masyarakat Indonesia.

Kebiasaan pertama adalah mewujudkan hal-hal yang telah ditetapkan, terutama yang ditetapkan orang itu sendiri. Jadi jangan puas dengan membuat gagasan atau rencana yang bagus, melainkan ingin melihat gagasan dan rencana itu menjadi kenyataan. Dan ada kesadaran bahwa hanya dengan perbuatan atau tindakan gagasan dan rencana itu menjadi kenyataan. Sekarang masih terlampau sering gagasan dan rencana yang bagus dan bahkan sudah lama dibicarakan tidak dilanjutkan dengan usaha menjadikannya kenyataan. Yang paling tragis adalah Pancasila yang dijadikan Dasar Negara dan diakui sebagai Jatidiiri bangsa Indonesia , sejak 1945 belum diusahakan menjadi kenyataan di kehidupan bangsa Indonesia yang nyata. Terus saja diomongkan tanpa ada usaha serieus untuk menjadikannya kenyataan.

Kebiasaan kedua adalah menghasilkan pekerjaan dengan mutu terbaik. Yang banyak terjadi adalah asal kerja saja. Runtuhnya jembatan Kutai Kertanegara yang baru berumur 10 tahun adalah salah satu contoh yang tragis. Hal itu terjadi bukan karena yang bekerja kurang pintar, kurang kompeten, melainkan semmata-mata karena yang mengerjakannya kurang sungguh-sungguh hendak menghasilkan pekerjaan yang bermutu.

Kebiasaan ketiga adalah bekerja menurut Ruang Waktu yang ditetapkan. Buat banyak orang Indonesia, termasuk yang terpelajar, faktor Sadar Waktu bukan hal penting dan belum menjadi sifat kepribadian. Tidak saja belum ada kebiasaan untuk menggunakan waktu dengan sebaik-baiknya, juga kurang ada kemampuan untuk menilai bahwa melakukan satu hal tidak lepas dari keperluan waktuitu. Contoh yang mencolok adalah pembangunan MRT untuk Jakarta yang sudah lama dibicarakan dan direncanakan, bahkan sudah ada beberapa tiang untuk Monorail, tapi hingga kini ya hanya tiang-tiang itu saja tanpa ada kelanjutan kerja. .

Kebiasaan keempat adalah kesediaan mengeluarkan energi memadai untuk pekerjaan yang dihadapi agar tercapai hasil dengan mutu baik sesuai ketentuan waktu. Pada dasarnya orang Indonesia tidak bodoh dan malahan cerdas, tetapi sayangnya bekerja dengan separuh perhatian dan tenaga. Kesebelasan PSSI tidak jarang sampai setengah main bagus penuh semangat, dan karena itu menciptakan kondisi untuk memenangkan pertandingan; tetapi tidak jarang sesudah tengah main seperti kehabisan tenaga.

Memang dalam masyarakat sudah ada kalangan yang sanggup bersifat Efektif, tapi mereka adalah minoritas yang amat terbatas jumlahnya. Bahkan di kalangan terpelajar budaya Efektif masih perlu ditegakkan.

Untuk membentuk kebiasaan baru diperlukan Kepemimpinan Nasional yang dapat menjadi dan memberikan Tauladan; kemudian menuntut hal sama pada setiap kepemimpinan dalam masyarakat bangsa. Kepemimpinan Daerah, kepemimpinan organisasi negara eksekutif-legislatif-yudikatif, kepemimpinan dunia usaha, kepemimpinan lingkungan akademis. Kepemimpinan harus dapat membentuk warga yang berdisiplin tinggi dan menunjukkan dirinya berdisiplin. Seluruh kepemimpinan di bangsa kita perlu menunjukkan sifat dan sikap yang menghasilkan Efektivitas.

Kepemimpinan harus mengembangkan Manajemen dalam mengurus organisasi yang ia pimpin. Untuk itu setiap Pemimpin harus sadar bahwa kepemimpinannya hanya dapat berhasil baik kalau dilakukan dengan Manajemen yang tepat. Maka dalam setiap organisasi berkembang kegiatan perencanaan, pelaksanaan dan pengawasan yang sistematis. Proses ini tidak mungkin bisa lepas dari faktor Waktu sehingga lambat laun Sadar Waktu menjadi kebiasaan. Ada manfaatnya kalau konsep Manajemen Kendali Mutu Terpadu diterapkan diajarkan dan digunakan di mana-mana.

Membentuk kebiasaan hidup baru memerlukan Pendidikan yang luas dan bermutu berupa Pendidikan di Lingkungan Keluarga, Pendidikan Sekolah, Pendidikan Masyarakat. Kepemimpinan Nasional dan Daerah harus menyadari bahwa masa depan bangsa sangat tergantung pada hasil Pendidikan itu.

Pendidikan Keluarga tergantung pada kehadiran Orang Tua yang sanggup mendidik anggota keluarganya menjadi orang-orang berkarakter teguh, berbudipekerti luhur, orang yang kuat berdisiplin khususnya disiplin pribadi. Yang menyadari bahwa Hidup adalah Perjuangan dengan inti kemampuan kerja dan bersifat produktif . Anggota keluarga sejak dini dibiasakan untuk berpikir dan berbuat. Karena belum para Orang Tua sudah dapat memberikan pendidikan ini sebagaimana mestinya, maka mereka perlu diberi petunjuk, bahkan pendidikan untuk menjadi Orang Tua yang baik dan efektif.

Pendidikan Sekolah membentuk kemampuan menguasai pengetahuan serta teknologi di samping memperkuat karakter, budi pekerti dan disiplin. Pendidikan sekolah sangat ditentukan oleh mutu para pengajar, mulai Guru TK dan Playgroup hingga Professor di Perguruan Tinggi. Sebab itu Kepemimpinan Nasional amat bertanggungjawab bahwa di Indonesia diselenggarakan Pendidikan Guru yang bermutu, berjalan manajemen personil yang tepat terhadap Guru dan Guru dihargai secara benar melalui penghasilan yang tepat. Hal ini semua diperlukan agar mereka yang menjadi Pendidik di sekolah melakukannya dengan mutu terbaik. Penguasaan pengetahuan dan teknologi membuat warga masyarakat cakap menjalankan berbagai pekerjaan dengan mutu tinggi.

Kegiatan Riset di segala bidang diperlukan agar Pendidikan Sekolah dilengkapi substansi pendidikan yang selalu sesuai dengan perkembangan zaman.

Pendidikan Masyarakat membentuk para warga masyarakat untuk sadar ber-Masyarakat atau Sosial, melalui Gerakan Pramuka, Karang Taruna dan organisasi masyarakat lainnya. Kesadaran ber-Masyarakat menimbulkan rasa tanggungjawab kebersamaan sebagai bangsa.

Kepemimpinan Nasional dan Daerah mengusahakan Kesehatan Masyarakat yang terjaga dan terpelihara. Manusia Indonesia yang sehat dan kuat selalu siap melakukan berbagai kegiatan dengan kondisi fisik baik (fit) Kondisi fisik ini mempengaruhi sekali Efektivitas warga masyarakat menjalankan pekerjaannya. Mutu Gizi diperhatikan mulai untuk anak yang dalam kandungan Ibu sampai orang jadi Manula. Harus kita sadari bahwa Gizi sangat mempengaruhi perkembangan otak mulai bayi dikandung hingga orang meninggal..

Olah Raga perlu untuk pemeliharaan kesehatan dan menjadi bagian pendidikan yang penting. Setiap warga masyarakat terbiasa melakukan kegiatan olahraga. Malahan Olah Raga Prestasi yang menghasilkan prestasi internasional turut meningkatkan derajat Negara dan Bangsa.

Hal ini semua akan menghasilkan kebiasaan yang membentuk Manusia dan Masyarakat Efektif di Indonesia . Terwujudlah sikap budaya Efektif.

Sikap Efektif menjadi modal penting untuk kemudian membangun sikap Efisien, yaitu mencapai Tujuan dengan menggunakan Sumber Daya minimal, atau dengan Sumber Daya yang tersedia dapat mencapai. hal-hal yang besar, yang maksimal.

Akan terwujud Manusia dan Masyarakat dengan Produktivitas tinggi. Hal ini akan membuat bangsa Indonesia mampu menjadikan segala potensi yang ada di Bumi Indonesia kekuatan yang nyata dan membawa kesejahteraan bagi seluruh rakyat.

Bangsa Indonesia akan mempunyai daya saing tinggi di dalam lingkungan internasional. Akan tercapai Tujuan Nasional Bangsa Indonesia , yaitu mewujudkan Masyarakat Maju, Adil dan Sejahtera berdasarkan Pancasila di dalam lingkungan Negara Kesatuan Republik Indonesia.