Hankam
DI INDONESIA TIDAK ADA MEDAN TANK ? PDF Print E-mail
Written by Sayidiman Suryohadiprojo   
Wednesday, 04 April 2012 22:50

Di Indonesia sedang terjadi perdebatan apakah tepat TNI-AD beli tank Leopard 2A6 dari Belanda. . Ada yang mengatakan bahwa medan Indonesia tidak cocok untuk tank, terutama untuk Leopard dengan berat antara 50-60 ton..Selain itu ada yang mempersoalkan apakah pengadaan MBT atau Main Battle Tank tinggi prioritasnya, mengingat TNI menghadapi masalah yang berbeda sifatnya, seperti persoalan Papua.

Perdebatan seru yang terjadi di masyarakat dan DPR acap kali menunjukkan bahwa yang berdebat kurang memahami subyek yang diperdebatkan, yaitu Leopard yang tegolong tank medium dengan sifat-sifatnya serta peran yang dapat dilakukan dalam pertahanan. Sebab itu perlu diuraikan apa barang yang dinamakan tank itu.

Read more...
 
Inilah copy ST Kasad No. 1409/2010 PDF Print E-mail
Written by Administrator   
Sunday, 15 August 2010 09:13

ST Kasad yang menghebohkan, terutama bagi para Purnawirawan dan Warakawuri serta Pensiunan PNS penghuni KPAD, akhirnya dapat dimuat di sini, silahkan di-simak baik-baik. Ternyata setelah diteliti bersama beberapa teman, ST ini adalah palsu, terbukti dari tanda tangan Kasad yang berbeda samasekali dengan tandatangan beliau sewaktu menjadi kasdam Jaya.Demikian pula dengan cap TNI Ad yang juga dipalsukan.
Mudah-mudahan yang berwenang dapat menemukan oknum yang telah membuat resah banyak orang, dan menindaklanjutinya sesuai dengan peraturan dan hukum yang berlaku.

Last Updated on Thursday, 19 August 2010 07:15
Read more...
 
PDIP Pertanyakan Kerjasama Alutsista RI-China PDF Print E-mail
Written by Berita8.com   
Tuesday, 02 February 2010 04:18

Senin, 01 Februari 2010, 10:16 WIB


Ketua Fraksi PDI Perjuangan DPR RI Tjahjo Kumolo mempertanyakan rencana kerja sama alat utama sistem persenjataan (alutsista) antara pemerintah Indonesia dengan Republik Rakyat China (RRC).

"Seharusnya program prioritas Kementerian Pertahanan (Kemhan) konsisten terhadap revitalisasi industri pertahanan," tegasnya di Jakarta, Senin (1/2).

Ia menegaskan hal itu menanggapi pernyataan Kementerian Pertahanan yang akan menyusun rencana induk industri pertahanan.

Tjahjo Kumolo menilai, ketersediaan sumber daya manusia (SDM) dan faktor-faktor pendukung lainnya secara domestik telah cukup memadai untuk diberdayakan, asalkan ada kemauan politik untuk segera beraksi.

"Jangan malah pemerintah justru berencana untuk menjajaki pengadaan alutsista dari China," katanya.

Ia menambahkan, mengutamakan pemberdayaan industri pertahanan domestik, terutama untuk membangun alutsista secara mandiri demi penguatan kedaulatan bangsa mesti menjadi perhatian serius.

"Kalau tidak dari sekarang, kita akan menghadapi masalah kian berat di masa depan menyangkut ketergantungan alutsista kepada pihak asing. Dan kita mudah didikte. Ini tidak bisa lagi," tandas Tjahjo Kumolo. (NEzz/At)

 
REFORMASI TNI BUKAN PEROMBAKAN RI PDF Print E-mail
Wednesday, 09 December 2009 05:37

Sayidiman Suryohadiprojo

 

Pendahuluan

Satu harian utama Ibu Kota memberitakan, bahwa pada tanggal 30 November 2009 organisasi Imparsial mengadakan pertemuan dengan tema Advokasi Masyarakat  Sipil untuk Reformasi Keamanan Indonesia.

Dalam pertemuan itu antara lain bicara Dr. Ikrar Nusa Bakti (INB), seorang professor riset LIPI, dan Letjen Purn Agus Widjojo (AW), mantan Kaster TNI.

Dua pembicara ini telah menyampaikan pandangan yang perlu menjadi perhatian kita yang cinta TNI dan terutama para Pembina TNI. Khususnya karena AW sebagai penasehat Presiden  dekat dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, sedangkan INB sebagai pejabat penting di LIPI tentu sedikit banyak berpengaruh terhadap kalangan intelektual.

Antara lain INB dan AW mengatakan, sesuai berita harian itu, bahwa Reformasi TNI masih     belum selesai. Kedua tokoh itu sependapat bahwa harus ada pemurnian TNI menjadi tentara professional untuk pertahanan. Untuk itu ada kendala berat berupa budaya yang hidup di lingkungan TNI serta pola pikir militer yang berlaku.

Selain itu INB mengatakan bahwa tertinggalnya TNI sekarang ini dalam alutsista  terutama disebabkan oleh budaya yang hidup di lingkungan TNI yang selama bertahun-tahun sibuk dengan politik dan bisnis militer. Menurut INB untuk menjadikan TNI kekuatan pertahanan yang professional diperlukan anggaran sebesar Rp 50 hingga Rp 60 trilyun, sedangkan anggaran sekarang yang sekitar Rp 40 trilyun adalah di bawah normal.

Sedangkan AW mengemukakan perlunya 4 agenda untuk memurnikan TNI :

1)      Gelar kewilayahan yang sesuai dengan fungsi pertahanan dan kaidah demokrasi, 2) transformasi pola pikir Dwifungsi TNI dari penjaga bangsa ke tentara professional, 3) struktur organisasi, dan 4) sistem pendidikan TNI.

Selain itu AW mengatakan bahwa pola pikir masyarakat juga merupakan kendala, karena selalu menyerahkan masalah keamanan juga pada TNI.

Kalau berita harian itu benar, maka ada maksud kuat kalangan tertentu di Indonesia untuk menjadikan TNI satu kekuatan bangsa yang dalam sikap dan jiwnya berbeda sekali dengan TNI yang kita bangun bersama sejak 1945. Karena orang-orang yang mengemukakan pendapat ini dekat dengan pusat kekuasaan Indonesia dewasa ini, maka

Last Updated on Wednesday, 09 December 2009 05:46
Read more...
 
Harapan Terhadap Menhan yang Baru. PDF Print E-mail
Thursday, 29 October 2009 05:24

Oleh : Bp. Soedibyo

Pada tanggal 21 Oktober 2009 malam  jam 22.00 WIB Presiden SBY telah mengumumkan susunan Kabinet Indonesia Bersatu II untuk periode 2009-2014 yang diantaranya menetapkan Bapak Purnomo Yusgiantoro,  mantan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral sebagai Menhan menggantikan Menhan  Juwono Sudarsono. Pergantian Kabinet, termasuk pergantian Menhan, bagi Negara dan bangsa Indonesia mempunyai arti yang penting, bukan hanya bagi TNI, tetapi juga bagi arah perkembangan sejarah Negara dan bangsa Indonesia kedepan, paling tidak dalam lima tahun yang akan datang.

Last Updated on Friday, 22 January 2010 00:39
Read more...
 
More Articles...
«StartPrev12NextEnd»

Page 1 of 2